RUANGBICARA.co.id – Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan di Tanah Air.
Namun demikian, pada tahun 2025 ini, momen refleksi tersebut justru ternoda oleh serangkaian kasus memalukan yang mengindikasikan kegagalan sistem pendidikan.
Mulai dari kekerasan seksual, korupsi dana pendidikan, hingga tewasnya siswa saat pentas drama, semua menjadi catatan kelam yang harus menjadi perhatian serius.
BACA JUGA: Tak Sekadar Gimmick, Begini Kata Pakar Soal ASN Naik Transportasi Umum
Berikut ini adalah 11 fakta memilukan yang mencerminkan kondisi krisis dalam dunia pendidikan Indonesia:
1. Kebijakan Tuai Kritik
Pertama, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menuai kontroversi karena berencana mengirim remaja bermasalah ke barak militer. Sasaran program ini adalah mereka yang terlibat tawuran, mabuk, dan kecanduan game.
Namun sayangnya, kebijakan tersebut langsung mendapat kritik dari Ketua Umum AGPPI, Unro. Ia menyebut cara ini bisa berdampak negatif pada psikologis siswa.
“Saya kurang setuju dengan istilah ‘anak nakal’,” tegas Unro, Kamis (1/5/2025). “Sebaliknya, kita harus menyebut mereka ‘anak yang perlu dibimbing’.”
Selain itu, ia juga menekankan bahwa pelatihan militer harus dibarengi pendampingan berkelanjutan agar tidak menjadi program seremonial belaka.
2. Kasus dr PAP
Kemudian yang kedua, seorang dokter PPDS di Fakultas Kedokteran Unpad, berinisial PAP, diduga memperkosa FH (21), anak dari pasien kritis di RS Hasan Sadikin Bandung. Ia menyuntikkan cairan bius dan melakukan tindakan keji di ruangan rumah sakit.
“Tersangka menyuntikkan korban setelah menusukkan jarum hingga 15 kali. Korban kehilangan kesadaran. Kejadiannya pada dini hari di ruang 711, Gedung MCHC,” ujar Kombes Pol Hendra Rochmawan, Rabu (9/4/2025).
Oleh karena itu, kasus ini menimbulkan trauma berat dan mengundang kecaman keras terhadap sistem pengawasan di rumah sakit pendidikan.
3. Konflik Rektor
Selanjutnya yang ketiga, adanya konflik internal antara pengurus Yayasan Altek dan pihak rektorat Universitas Malahayati menyebabkan lebih dari 7.500 mahasiswa terkatung-katung akademiknya.
“Kemendikti telah menerbitkan surat resmi yang menganulir jabatan Musa Bintang dan Achmad Farich. Muhammad Kadafi ditetapkan sebagai rektor sah,” ungkap kuasa hukum, Sopian Sitepu, Rabu (9/4/2025).
4. Siswa Tewas
Keempat, Peristiwa kelam terjadi saat siswa SMK Dharma Pertiwi bernama Muhammad Rofiq Dafirly, meninggal dunia saat memainkan adegan bunuh diri dalam drama bertema kenakalan remaja. Selain itu, Properti yang digunakan ternyata gunting sungguhan.
“Ini tragedi besar. Properti harus dicek ketat. Ini bukan hanya kelalaian, tapi nyawa yang dipertaruhkan,” kata Kapolres Cimahi AKBP Tri Suhartanto, Minggu (23/2/2025).
5. Arogansi Menteri
Kelima, Menteri Pendidikan Tinggi Satryo Soemantri Brodjonegoro dituduh melakukan kekerasan fisik dan pemecatan sepihak. Pegawai melakukan demonstrasi besar-besaran.
“Pak Presiden, selamatkan kami dari menteri pemarah, suka main tampar dan main pecat,” bunyi salah satu spanduk protes di gerbang kantor Kemendiktisaintek.
Tak lama dari situ, Satryo resmi digantikan Prof. Brian Yuliarto dalam reshuffle kabinet pada Rabu, (19/2/2025).
6. dr. Aulia
Keenam, dr. Aulia Risma, peserta PPDS Undip, mengakhiri hidupnya akibat perundungan dan tekanan dari seniornya. Selain itu, ia dipaksa mengelola dana hingga miliaran rupiah untuk kepentingan pribadi senior.
“Dia bendahara angkatan. Mengumpulkan uang hingga Rp 1,6 miliar dari iuran peserta. Itu bukan untuk pendidikan, tapi kebutuhan pribadi senior,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin di rapat DPR, Rabu (30/4/2025).
7. Ibu Ganti Kursi
Ketujuh, kasus yang paling anyar adalah seorang ibu bernama Arta Grace Monica viral di media sosial. Dalam videonya, ia telihat membawa kursi dan meja sendiri ke SDN 2 Pasir Tangkil setelah diminta sekolah mengganti peralatan dirusak anaknya.






