Ia adalah perwira militer brilian yang menunjukkan kepiawaiannya saat memimpin divisi dalam Pertempuran Gallipoli. Usai kekalahan Kesultanan Utsmaniyah di tangan Sekutu, Mustafa Kemal memimpin perlawanan rakyat Turki dalam Perang Kemerdekaan. Gerakan ini berujung pada berdirinya Republik Turki, dengan dirinya sebagai presiden pertama.
Sebagai pemimpin, Atatürk dikenal karena serangkaian reformasi radikal yang bertujuan membentuk negara Turki yang sekuler dan demokratis. Ideologinya yang dikenal sebagai **Kemalisme** menekankan nasionalisme, pemisahan agama dan negara, serta modernisasi.
Akhir Hidup Sang Reformis
Menjelang akhir hayatnya, kondisi kesehatan Atatürk terus menurun. Pada tahun 1937, gejala sakit mulai terlihat, dan pada awal 1938, ia menderita penyakit serius saat sedang dalam perjalanan ke Yalova. Ia kemudian didiagnosis menderita sirosis hati, yang diduga akibat kebiasaan minum berat, yakni mengonsumsi setengah liter rakı setiap hari.
Meski terus mencoba menjalani aktivitas normal di Istanbul, Atatürk akhirnya wafat pada 10 November 1938 pukul 9:05 pagi di Istana Dolmabahçe. Hingga kini, jam di ruangan tempat ia meninggal tetap disetel pada waktu tersebut, sebagai penghormatan akan warisannya.
Pemakamannya menjadi momen bersejarah penuh duka dan kebanggaan bagi rakyat Turki. Sebanyak 17 negara mengirim utusan khusus, dan sembilan negara lainnya menyumbang detasemen bersenjata untuk mengiringi prosesi. Jenazahnya sempat disemayamkan di Museum Etnografi Ankara, sebelum akhirnya dipindahkan ke Anıtkabir, makam megah yang menghadap ke kota Ankara, pada 10 November 1953.
Dalam surat wasiatnya, Atatürk mewariskan seluruh hartanya kepada Partai Rakyat Republik. Dana tersebut digunakan untuk merawat keluarganya dan membiayai pendidikan anak-anak dari tokoh sezamannya, İsmet İnönü, serta mendukung lembaga bahasa dan sejarah Turki.
BACA JUGA:Â Forum Pemred Minta Aturan Algoritma Medsos Masuk RUU Penyiaran, Nezar Patria Beri Respon Ini
Catatan Redaksi:
Penyebutan Mustafa Kemal Atatürk dalam konteks komentar publik atas kondisi Presiden Jokowi tentu bersifat spekulatif dan simbolik. Namun hal ini menunjukkan bagaimana sosok pemimpin yang tengah sakit sekalipun masih menjadi pusat perhatian dan perbandingan dengan tokoh-tokoh bersejarah dunia.






