Peran negara adalah untuk menjamin dan melindungi harkat serta martabat setiap warga negara.
Berdialektika dalam demokrasi wacana mensyaratkan para pihak yang berdialektika memiliki kualitas informasi dan pengetahuan yang berimbang. Tanpa syarat ini, maka dialektika tidak berjalan; brainstorming menjadi brain washing. Dalam jangka menengah panjang, terjadi pengendalian persepsi.
Berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat semakin membutuhkan kehadiran negara. Ketika negara terlambat atau tidak responsif, rakyat mengambil inisiatifnya sendiri dengan mem-viralkan di media sosial: no viral no justice.
Menjadi tanggung jawab kita bersama—lembaga kekuasaan negara, DPR RI, DPD RI, pemerintah pusat, dan daerah, MA, MK, TNI, Polri—untuk menjalankan kekuasaan negara secara efektif, responsif, cepat, memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan dalam menangani setiap urusan rakyat. Sehingga rakyat merasakan kehadiran negara.
Kehadiran negara jangan menunggu viral for justice. Kehadiran negara adalah hadirnya keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat.
Besok, 17 Agustus 2024, adalah 79 tahun hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. 79 tahun kita menjadi Indonesia. Menjadi Indonesia berarti kita bertekad dan bekerja untuk memiliki suatu bangsa dan negara yang berkarakter Indonesia. Sudah 79 tahun bangsa dan negara ini membangun di berbagai bidang: politik, pertahanan dan keamanan (hankam), sosial, ekonomi, budaya, religi, hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan lain sebagainya.
Kita selayaknya berterima kasih atas upaya setiap pemerintahan untuk membangun Indonesia dan mengatasi tantangan di setiap zamannya.
Karenanya, kami ucapkan terima kasih juga kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang akan segera berakhir masa tugasnya, atas upaya dan kerjanya selama 10 tahun ini dalam membangun Indonesia.
Kita tentu tidak dapat hanya fokus pada hal-hal yang telah berhasil dicapai, maupun hanya fokus pada hal-hal yang belum berhasil dicapai. Fokus pada hal-hal yang telah dicapai mengantarkan kita hanya untuk melanjutkan, sementara fokus pada hal-hal yang belum berhasil dicapai mengantarkan kita untuk melakukan perubahan atau penyempurnaan.
Jadi, di antara yang akan melanjutkan dan yang akan melakukan perubahan atau penyempurnaan, masih terdapat pengarusutamaan yang lain: yaitu progresif, yang berarti maju, berkembang, dan berkembang untuk maju.
Maju berarti menjadi berkualitas, berkembang berarti menjadi inklusif. Pembangunan yang berkualitas ditandai dengan kehidupan rakyat yang semakin makmur, sejahtera, dan mudah dalam berbagai urusan. Negara hadir untuk berpihak kepada rakyat. Pembangunan yang inklusif ditandai dengan kesempatan yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan menikmati hasil-hasil pembangunan—petani, nelayan, buruh, rakyat kecil, guru, PNS, swasta, dan lain sebagainya. Semua dapat berpartisipasi dan menikmati kesejahteraan, termasuk juga kaum perempuan.
Pembangunan yang inklusif juga memberikan ruang bagi perempuan dalam pembangunan. Keikutsertaan perempuan bukanlah sebagai bentuk afirmatif, melainkan sebagai bentuk kesadaran kita bersama bahwa peran laki-laki dan perempuan setara kedudukannya dalam membangun bangsa dan negara. Saat ini, masih banyak ditemukan cara pikir yang seperti ini: “the happiness of man is: I will, the happiness of woman is: he wills.” Seolah-olah hanya ada history, tidak ada her-story.
Cara pikir dan cara sikap seperti inilah yang harus diubah. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan bukan didasarkan karena kebencian pada kaum laki-laki, tetapi atas kesadaran bahwa harkat dan martabat manusia sama—baik laki-laki maupun perempuan, baik kulit putih maupun kulit hitam, baik rambut lurus maupun rambut keriting, harkat dan martabat manusia adalah sama.
Kesetaraan perempuan dan laki-laki tetap mengakui dan menghormati kodrat masing-masing. Tidak mungkin atas nama kesetaraan, perempuan menggunakan pakaian laki-laki dan laki-laki menggunakan pakaian perempuan. Apa jadinya kalau laki-laki yang hadir di sini menggunakan pakaian perempuan, demi kesetaraan?
Kesetaraan tetap mengakui kodrat yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama untuk maju, sejahtera, berkarya, berprestasi, dan hak yang sama dalam pekerjaan serta jabatan-jabatan publik.
Ayo, perempuan Indonesia, tunjukkan bahwa kita adalah perempuan-perempuan hebat!
Pembangunan nasional ke depan memiliki sejumlah agenda strategis. Kita perlu mempersiapkan dan memperkuat sumber daya manusia Indonesia yang siap menghadapi perkembangan zaman, yang ditandai dengan kemajuan teknologi, persaingan global, ekonomi digital, ekonomi destruktif, dan generasi muda yang terus bertumbuh dengan karakternya.
Sumber daya manusia Indonesia yang tangguh akan menjadi penggerak kemajuan Indonesia. Ke depan, kita juga harus memiliki pilar perekonomian nasional yang semakin kuat. Hilirisasi tidak hanya terbatas pada mineral, tetapi juga pada pertanian, perikanan, perkebunan, dan lain sebagainya. Sehingga perekonomian nasional semakin berkualitas dan inklusif.
Kita harus dapat menyelesaikan masalah-masalah struktural dalam membangun kedaulatan pangan, mengatasi ketimpangan sosial, dan penciptaan lapangan kerja, sehingga derajat hidup rakyat semakin sejahtera dan dimudahkan. Pemerataan pembangunan di daerah harus dapat semakin cepat dilakukan. Politik anggaran semakin diarahkan untuk memperkuat kemampuan daerah dalam membangun. Tidak akan ada kemajuan Indonesia tanpa kemajuan daerah yang berkualitas dan inklusif.
Kita juga harus melakukan pembangunan karakter bangsa: nation and character building. Dengan nation and character building, maka akan memperkuat cara pikir, cara kerja, dan cara hidup bangsa, yang memberikan self-respect kepada bangsa sendiri, memberikan self-confidence kepada diri bangsa sendiri, dan memberikan kesanggupan untuk mandiri.
Agenda strategis ke depan lainnya dalam pembangunan ibukota Nusantara: keberhasilan pembangunan ibukota Nusantara selain membutuhkan perencanaan dan manajemen sumber daya yang baik, juga skenario pembiayaan yang berkelanjutan.
Dukungan investasi juga akan sangat ditentukan oleh dukungan dari seluruh pemangku kepentingan dan seluruh anak bangsa, untuk dapat selaras dalam memaknai ibukota negara sebagai agenda kita bersama dalam membangun ekonomi bangsa Indonesia ke depan dan momentum dalam melaksanakan paradigma pemerataan pembangunan nasional.
Saatnya diperlukan kecermatan bagi para pemangku kepentingan dalam menetapkan prioritas mengelola sumber pendanaan serta kepemimpinan birokrasi yang handal, agar tercapainya tujuan pembangunan nasional ke depan.
Inilah yang harus menjadi perhatian pemerintah ke depan: pekerjaan-pekerjaan yang selesai dilakukan akan lebih baik daripada rencana-rencana besar yang hanya dibicarakan.
Kerja untuk mewujudkan Indonesia yang berkemajuan adalah menjadi tugas seluruh anak bangsa, seluruh komponen bangsa, laki-laki dan perempuan, semua generasi. Generasi baby boomer, generasi X, generasi milenial, generasi Z—pokoknya seluruh rakyat Indonesia.
Kerja bersama ini, seperti meletakkan satu persatu batu peradaban bangunan Indonesia, sehingga menjadi rumah Indonesia yang kokoh, tentram, dan sentosa. Batu peradaban tersebut direkatkan oleh kepentingan bersama—kepentingan bangsa dan negara, kepentingan rakyat. Tanpa perekat yang kuat, maka susunan batu rumah Indonesia akan mudah roboh dan hancur.
Kita membutuhkan perekat yang kuat bagi persatuan dan kesatuan di Indonesia. Sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, kita adalah bangsa dan negara yang terdiri atas berbagai suku, kepercayaan, agama, bahasa, budaya, mendiami 17.000 pulau nusantara dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa.
Dengan keragamannya, lihat saja keragaman budaya daerah dalam memberikan salam yang penuh dengan kearifan lokal: dari suku Batak ‘horas’, suku Lampung Komering ‘tabik pun’, suku Jawa ‘Rahayu’, suku Sunda ‘sampurasun’, suku Dayak ‘Adil ka’ talino bacuramin ka’ saruga, basengat ka’ jubata’, suku Bugis Makassar ‘Salamaki tapada salama’, suku Minahasa ‘Tabea’, suku Minang ‘Ba’a kaba?’, suku Bali ‘om swastiaastu’, Papua ‘Nara gerotelo’, dan seterusnya.
Begitu banyaknya kearifan budaya daerah, keragaman yang tidak mungkin kita hilangkan—keragaman adalah kekayaan budaya Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.
Ke depan, kita harus tetap mawas diri. Pengalaman banyak negara yang gagal merajut persatuan dan kesatuan bangsanya adalah karena masalah politik, masalah krisis ekonomi, masalah keadilan, dan masalah krisis kepercayaan.
Rakyat Indonesia dapat merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa, ber-Bhineka Tunggal Ika, dalam begitu banyak keragaman. Hanya kita memiliki Pancasila sebagai ideologi kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagai jiwa bangsa Indonesia.
Kita akan melaksanakan pemilihan gubernur dan wakil gubernur di 37 provinsi, serta pemilihan bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota di 508 kabupaten/kota. Kita semua berkomitmen bahwa segala peristiwa yang terjadi dalam pelaksanaan pemilihan legislatif dan pemilu presiden pada bulan Februari 2024 yang lalu, baik yang manis maupun yang pahit, apalagi getir, menjadi bahan introspeksi, pelajaran, dan hikmah bagi kita semua.
Sebagai bangsa Indonesia yang sudah baik, mari kita pertahankan yang masih kurang baik. Terutama yang tidak sesuai dengan prinsip demokrasi, tentu harus kita perbaiki.
Besok, saat matahari terbit bersinar terang, tanda buana membuka hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-79. Mewujudkan Indonesia yang sejatinya merdeka membutuhkan perjuangan gotong royong, kerja bersama seluruh anak bangsa. Boleh saja kita berbeda pandangan politik, berbeda partai politik, apalagi berbeda dalam hal yang disuka dan yang tidak disukai. Tetapi kita harus selalu ingat bahwa ada yang lebih penting dari semua perbedaan-perbedaan tersebut, yaitu bagaimana kita dapat merawat dan menjaga kesatuan dan kesatuan Indonesia.
Kita tidak pernah tahu takdir bangsa dan negara Indonesia. Kita hanya dapat berusaha dan berjuang sampai takdir mengungkapkan dirinya.
Kita juga tidak perlu menjadi luar biasa untuk memulai. Yang terpenting adalah kita harus memulai untuk menjadikan Indonesia luar biasa. Selamat ulang tahun yang ke-79, Dirgahayu Republik Indonesia Merdeka!
Semoga Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa, senantiasa memberikan rahmat dan bimbingannya bagi kita semua.
BACA JUGA:Â Dihadapan Jokowi, Puan Maharani Singgung Etika Politik, Demokrasi hingga Hilirisasi






