Soal Penggantian Panglima TNI, Pengamat Sebut Unsur Politis Geng Solo

JakartaPresiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengusulkan nama Jendral TNI Agus Subiyanto sebagai pengganti Panglima TNI yang sedang mendekati masa pensiun, Laksamana TNI Yudo Margono.

Keputusan ini diumumkan pada Selasa, (31/10/2023) di saat masa pembukaan sidang paripurna II Tahun 2023-2024 oleh Ketua DPR RI, Puan Maharani.

Pengamat Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Mohammad Rizky Godjali, menilai ada tiga aspek dalam sudut pandang politik terkait Jendral Agus Subiyanto diusulkan sebagai panglima TNI.

“Pada dasarnya dalam pengangkatan panglima TNI di Indonesia adalah hak prerogatif presiden berdasarkan undang-undang 34 Tahun 2004 tentang TNI yang bisa ditinjau dari tiga dimensi,” kata Godjali saat dihubungi Ruangbicara, Rabu, (1/11/2023).

Menurutnya, aspek pertama yaitu regulasi, bahwa menurut undang-undang TNI, Presiden berwenang untuk mengangkat panglima TNI.

“Pertama, adalah aspek regulasi bahwa kewenangan mengangkat panglima TNI ini merupakan hak yang dijamin oleh konstitusi yaitu hak prerogratif presiden, jadi Presiden berhak untuk mengangkat siapapun selama sesuai dengan persyaratan, yaitu sedang atau sudah pernah menjadi kepala staf salah satu matra di TNI, karena sekarang menjadi fase atau giliran dari matra angkatan darat semacam otomatis siapapun yang menjadi kasad hari ini akan menjadi panglima TNI karena sebelumnya matra Laut, Matra udara sudah pernah diangkat oleh Presiden secara bergantian,” jelas Godjali.

Rekam Jejak Jendral Agus Subiyanto

Aspek kedua, ia mengungkapkan bahwa pengangkatan Jendral Agus Subiyanto sebagai Panglima TNI memiliki unsur politis yang menarik. aspek kedua ini lebih mengarah pada hubungannya dengan “Geng Solo”.

“Kalau kita lihat dari rekam jejak jenderal Agus Subiyanto sebelum dia ada di pucuk pimpinan dengan bintang 4 berada di pundaknya, beliau pernah menjabat sebagai Dandim di Surakarta. nah pada saat yang bersamaan mungkin punya periode yang sama pada saat Joko Widodo menjabat sebagai walikota Surakarta, ini juga terjadi di mana Kapolri hari ini jendral Listyo Sigit Prabowo juga pernah menjadi Kapolres Surakarta, jadi lengkaplah sudah dalam hal ini “geng Solo” yang mengisi jabatan-jabatan tertinggi, dari walikotanya sekarang jadi presiden, kapolresnya jadi Kapolri, kemudian Dandim nya menjadi panglima TNI,” ungkap dia.

Pengangkatan Jendral Agus Subiyanto

Selain aspek politik, yang ketiga ini adalah aspek strategis. Godjali lebih lanjut, menuturkan bahwa pertimbangan Presiden Jokowi melihat peranan Panglima TNI dalam menjalankan berbagai fungsi utama militer, termasuk mengamankan pemilu dan menghadapi potensi gejolak sosial, politik, dan keamanan yang tinggi.

Baca juga: Presiden Usulkan Agus Subiyanto Jadi Panglima TNI

“Aspek yang ketiga adalah dimensi strategis sebagai seorang presiden mempertimbangkan aspek keberlanjutan dari jabatan panglima TNI untuk menjaga kondusifitas di dalam negeri dan menjalankan berbagai fungsi-fungsi utama militer selain menjalankan operasi perang sebagai tugas utama pokoknya TNI, juga diberikan tugas-tugas yang lain salah satunya adalah mengamankan pemilu dan berbagai potensi gejolak dengan eskalasi sosial politik keamanan yang tinggi” tutunya.

Pentingnya Harmonisasi di Tubuh TNI

Selain itu, Dosen Fisip Untirta ini, menyoroti pentingnya harmonisasi antara berbagai matra dalam tubuh TNI dan menjelaskan bahwa pengangkatan dari matra angkatan darat adalah langkah yang sesuai dengan praktik sebelumnya.

“Aspek strategis ini juga memperhatikan aspek harmonisasi dalam hubungan antar matra di lingkungan TNI. Karena sudah dua matra sebelumnya sudah menjadi panglima TNI dan dilakukan lah secara bergantian menjadi prerogatif presiden, maka presiden mengangkat dari matra angkatan darat,” ujar Godjali.

Sebagai penutup, Godjali menambahkan bahwa Jendral Agus Subiyanto dinilai pantas, di nilai lebih pantas, karena rekam jejak dan waktu kedinasan cukup baik.

“Sementara ya kita lihat jenderal Dudung itu punya masa kepemimpinan yang sudah berakhir karena pensiunnya ada di bulan November. Maka presiden mengangkat orang paling dekat dengannya yaitu wakil kasat yaitu Agus Subianto dengan memperhatikan rekam jejak yang komplit untuk menjadi panglima ditubuh TNI,” tutup dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *