Sosok Kholid Nelayan Ternyata Melawan sejak Penambangan Pasir Laut, Sekarang Pagar Laut Tangerang

“Melihat bangunan pagar itu, jelas ini bukan dilakukan oleh orang tanpa uang. Kalau ada yang bilang ini swadaya masyarakat, saya pikir perlu dibawa ke psikiater,” sindirnya.

Keberadaan pagar laut ini menambah penderitaan nelayan setempat.

“Kami seperti dipimpin oleh orang-orang dengan pola pikir yang tidak normal. Lingkaran besar seperti negara dipaksa masuk ke lingkaran kecil, yakni korporasi,” tegas Kholid.

Kholid juga menyoroti penderitaan masyarakat yang semakin parah akibat penggusuran dan ketidakadilan.

“Orang belum dibayar, tanahnya sudah diurug. Mereka menjerit, menderitanya bahkan lebih buruk dari zaman penjajahan Belanda,” ucapnya dengan nada emosional.

“Saya merasa bukan diurus oleh negara, melainkan oleh korporasi. Sebagai nelayan dan petani, saya tidak sudi dipimpin oleh mereka,” sambung Kholid.

BACA JUGA: Teknologi Air Dome Pertama di Indonesia Resmi Diluncurkan di PIK 2

Kisah Kholid mencerminkan perjuangan melawan ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat kecil. Dengan keberanian dan tekad, ia berupaya mempertahankan hak-haknya sebagai nelayan.

“Lebih baik mati daripada harus dipimpin oleh korporasi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *