Sukses Catat Kinerja Positif, Bos Garuda Indonesia Ungkap Langkah dan Strateginya

JakartaPT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan kinerja positif dengan pertumbuhan pendapatan usaha konsolidasi sebesar 40% pada tahun kinerja 2023, mencapai US$2,94 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pendapatan usaha yang meningkat tersebut dipicu oleh pertumbuhan pendapatan penerbangan berjadwal sebesar 41% menjadi US$2,37 miliar, sejalan dengan pemulihan pergerakan masyarakat pasca pandemi. Bahkan pendapatan dari penerbangan berjadwal penumpang sendiri tumbuh hingga 52%.

Pada tahun 2023, Garuda Indonesia Group mencatatkan pertumbuhan jumlah angkutan penumpang sebesar 34%, mencapai 19.970.024 penumpang. Garuda Indonesia berhasil mengangkut sebanyak 8.291.094 penumpang, sementara Citilink sebanyak 11.678.930 penumpang.

Strategi Restrukturisasi dan Aksi Korporasi

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengatakan bahwa implementasi aksi strategis korporasi dan pemulihan kinerja telah membawa Garuda Indonesia mencatat laba tahun berjalan sebesar US$251.996.580.

“Aksi korporasi pembelian kembali sebagian obligasi tersebut menjadi salah satu proses pemenuhan kewajiban restrukturisasi, di mana dalam hal ini para pemegang Surat Utang dan Sukuk mayoritas merupakan para kreditur Garuda yang mengikuti tahapan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU),” kata Irfan dalam keterangan resminya, Senin (1/4/2024).

BACA JUGA: Garuda Indonesia dan Citilink Kompak Gelar Program “Lebaran ke Jakarta”

Diketahui, langkah restrukturisasi utang Garuda Indonesia yang dimulai sejak akhir tahun 2021, mampu membawa Perusahaan untuk bangkit kembali setelah menerima persetujuan dari kreditur yang tertuang dalam perjanjian homologasi pada tahun 2022 atas penurunan nilai utang hingga 50% yakni dari nilai utang yang sebelumnya US$10,9 miliar menjadi US$4,79 miliar.

Hingga saat ini, perusahaan terus melakukan pemenuhan kewajiban pembayaran utang melalui sejumlah skema diantaranya yaitu;

  1. Melakukan pelunasan bertahap melalui arus kas operasional
  2. Melakukan konversi utang menjadi Ekuitas Baru, Surat Utang Baru, Tagihan Utang Lokal dan Sukuk Baru
  3. Melakukan konversi utang jangka Panjang untuk kreditur Bank, BUMN dan Anak Perusahaan
  4. Melakukan Pelunasan Sebagian Surat Utang Baru dan Sukuk Baru melalui Tender Offer.

Hal ini menurutnya, memperkuat fundamen positif perusahaan setelah restrukturisasi pada akhir tahun 2022.

“Kami tentunya berharap upaya pembayaran utang secara bertahap sesuai Perjanjian Perdamaian yang telah disepakati serta langkah akselerasi kinerja Perusahaan yang dioptimalkan ini mampu mewujudkan fokus Garuda Indonesia sebagai bisnis yang sehat, meskipun tidak dapat dipungkiri proses pemulihan yang sedang berlangsung ini membutuhkan waktu tidak sebentar di tengah adanya berbagai tantangan di masa mendatang yang perlu dihadapi secara strategis,” jelas Irfan.

Fokus Garuda Indonesia Tahun 2024

Tahun 2024, Garuda Indonesia menargetkan penambahan 8 pesawat hingga akhir tahun, termasuk 4 narrow body dan 4 wide-body aircraft.

“Dengan adanya proyeksi penambahan pesawat tersebut, Garuda Indonesia sebagai mainbrand diperkirakan dapat mengoperasikan hingga 80 pesawat pada akhir tahun 2024,” tutur Irfan.

Hal ini diharapkan dapat meningkatkan keterisian penumpang serta mendukung perluasan jaringan penerbangan.

“Konsistensi pertumbuhan indikator aspek operasional tersebut juga terefleksikan melalui jumlah frekuensi penerbangan Garuda Indonesia Group yang dilayani sepanjang tahun 2023 yakni sebesar 145.500 tumbuh sekitar 38% jika dibandingkan dengan tahun 2022 lalu,” ungkapnya.

BACA JUGA: Garuda Indonesia Siapkan 1,4 Juta Kursi Penerbangan untuk Mudik Lebaran 2024

Diversifikasi Bisnis Anak Usaha Meningkatkan Kinerja

Tak hanya itu, Anak usaha Garuda Indonesia juga seperti GMF Aero Asia (GMFI), mencatat pertumbuhan signifikan dalam pendapatan usaha dan laba bersih.

“GMFI berhasil mencatatkan pencapaian pendapatan usaha sebesar US$373.2 juta, menandai pertumbuhan yang signifikan sebesar 56.9% dari tahun sebelumnya. Serta berhasil juga mencatatkan laba bersih sebesar US$20.2 juta sepanjang tahun 2023,” imbuhnya.

“Hal ini ditunjang oleh prospek diversifikasi bisnis yang dijalankan GMFI yang kini turut memperluas pangsa pasarnya pada layanan perawatan pesawat pertahanan dan industrial solutions,” sambung Irfan.

Fundamen Kinerja Keuangan dan Operasi Solid

Dengan fondasi yang kuat dalam kinerja keuangan dan operasional, Garuda Indonesia sedang fokus pada peningkatan landasan kinerja yang optimal. Pertumbuhan positif dalam kinerja terus menerus tercermin, salah satunya dalam peningkatan EBITDA FY 2023 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Selain itu, Garuda Indonesia berhasil mengurangi liabilitas jangka pendek sebesar 30% dari tahun sebelumnya, menjadi US$1,165,155,552. Penurunan ini menjadi indikator penting dalam menunjukkan kesehatan finansial, terutama dalam mengelola utang usaha.

Tak hanya itu, indikator ASK (available seat kilometer) juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 33,5% dari tahun sebelumnya, sementara angkutan kargo mengalami pertumbuhan positif sebesar 11,3% pada kuartal terakhir tahun 2023.

Dengan berbagai pencapaian tersebut, Garuda Indonesia berencana untuk mengakselerasi kinerja bisnisnya pada tahun 2024 dengan fokus pada peningkatan pendapatan dari segmen komersial, termasuk kargo dan penerbangan berjadwal maupun tidak berjadwal, serta pendapatan tambahan.

BACA JUGA: Untuk Meningkat Pelayanan, Garuda dan UOB Resmi Luncurkan GIUC

Perusahaan juga, akan memperhatikan manajemen beban usaha yang optimal serta mengoptimalkan manajemen risiko untuk memastikan kemampuan memenuhi kewajiban jangka panjang.

Proyeksi Tahun 2024

Pasca restrukturisasi, Garuda Indonesia optimis memasuki fase pemulihan yang lebih cepat di tahun 2024.

“Dirampungkannya restrukturisasi pada akhir tahun 2022 lalu, memberikan kesempatan bagi Perusahaan untuk melakukan perubahan fundamen secara menyeluruh pada seluruh landasan bisnis kinerja usaha yang keseluruhan prosesnya kami lakukan secara prudent,” ujar Irfan.

Dengan proyeksi pemulihan industri penerbangan secara bertahap, perusahaan siap mengoptimalkan kinerja usaha dan memanfaatkan potensi pengembangan bisnis yang luas.

“Dengan fundamen kinerja yang secara bertahap terus menunjukan pemulihan yang konsisten termasuk melalui langkah perbaikan ekuitas yang terukur, kami optimis tahun 2024 akan menjadi tahun yang monumental dalam langkah akselerasi kinerja usaha Garuda Indonesia. Sejalan dengan proyeksi IATA yang meramalkan industri penerbangan di tahun 2024 akan menyelesaikan fase recovery-nya secara bertahap,” paparnya.

“Berangkat dari capaian kinerja yang menunjukkan upaya perbaikan dan luasnya potensi pengembangan usaha yang dapat dimaksimalkan di fase pasca pandemi, kami optimis mengejar akselerasi performa Perusahaan yang adaptif, agile sehingga siap untuk menjadi bisnis yang menguntungkan,” tutup Irfan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *