Setibanya di Rangkasbitung, Dea melanjutkan perjalanan menggunakan angkot ke arah Pandeglang. Meski lalu lintas sempat lancar, kemacetan mulai terasa saat mendekati wilayah Jiput, terutama menjelang waktu berbuka puasa.
Minimnya Akses Transum
Salah satu kendala utama yang dikeluhkan Dea adalah minimnya pilihan transportasi umum dari Rangkasbitung ke wilayah selatan Pandeglang. Tidak adanya jalur kereta aktif membuat masyarakat hanya mengandalkan angkot, mobil PS, atau ojek yang biayanya cukup tinggi.
“Kalau naik bus paling sampai Menes. Dari sana harus lanjut naik ojek atau dijemput,” jelasnya.
Dea menaruh harapan besar pada wacana reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung–Labuan yang hingga kini belum terealisasi. Jalur tersebut, yang membentang sejauh 56,6 kilometer, diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang untuk memudahkan mobilitas warga Pandeglang.
“Wacana reaktivasi ini udah ada sejak aku masih SMA. Tapi sampai sekarang belum juga kelihatan realisasinya,” ungkap Dea.
BACA JUGA: Pakar Apresiasi Kelancaran Mudik 2025 Via Bakauheni-Merak, Tapi Ingatkan Ini saat Arus Balik
Dengan demikian, kisah Dea menjadi gambaran nyata bagaimana mudik masih menyisakan berbagai persoalan, terutama bagi masyarakat yang berasal dari daerah dengan keterbatasan akses transportasi. Infrastruktur yang merata dan layak menjadi kebutuhan mendesak agar setiap perjalanan mudik bisa benar-benar membawa kebahagiaan, bukan kelelahan.






