Tan Malaka: Perlunya Persatuan antara Komunisme dan Pan-Islamisme

Tan Malaka, atau Sutan Ibrahim Datuk, adalah salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia dan pemikir revolusioner kiri. Dengan perjuangan bawah tanahnya, ia melawan penjajah asing yang menindas rakyat Indonesia selama perjuangan kemerdekaan.

Perjumpaan di Moskow

Pada Oktober 1922, Tan Malaka mengasingkan diri ke Moskow, Rusia. Di sana, ia bertemu dengan tokoh-tokoh kiri dan membaur dengan Bolsyewik. Saat itu, Moskow menjadi tuan rumah Kongres Komunis Internasional ke-4, yang di mana Tan Malaka diangkat sebagai wakil Indonesia.

Kongres berlangsung dari 5 November hingga 5 Desember 1922, menjadi ajang pertemuan Tan dengan tokoh-tokoh besar seperti Lenin, Stalin, dan Trotsky. Ia juga berinteraksi dengan aktivis komunis Asia lainnya seperti Ho Chi Minh dari Vietnam.

Dalam kongres tersebut, Tan Malaka mendapat kesempatan untuk berpidato. Ia menyampaikan pandangannya tentang perlunya persatuan antara Komunisme dan Pan-Islamisme dalam menghadapi imperialisme kapitalis borjuis.

Baca juga: Presiden Jokowi Rasa Juru Bicara Capres, Hilangnya Netralitas

Persatuan Komunisme dan Pan-Islamisme

Tan Malaka menyoroti pentingnya tidak mengabaikan kenyataan bahwa umat Islam di dunia mencapai 250 juta jiwa. Baginya, persatuan Komunisme dan Pan-Islamisme adalah strategi efektif melawan imperialisme kapitalis-borjuis, yang dianggap sebagai musuh bersama oleh kedua kelompok tersebut.

Makna Pan-Islamisme

Dalam konteks sejarah, Pan-Islamisme memiliki makna luas sebagai kesadaran kesatuan umat Islam yang diikat oleh kesamaan agama, membentuk solidaritas dunia.

Menurut buku (Setiawan dkk: 1990, hlm. 821), Pan-Islamisme adalah gerakan mempersatukan umat Islam yang pernah digaungkan oleh Al-Thah-Thawi dengan istilah persaudaraan seagama. Konsep ini kemudian diformulasikan secara konkret oleh tokoh-tokoh seperti Sayid Jamaluddin Al-Afgani dan Syekh Muhammad Abduh.

Gerakan Pan-Islamisme lahir sebagai respons terhadap invasi imperialisme Barat ke dunia Islam dan negara-negara Islam. Dalam perspektif sejarah, faktor inilah yang melatarbelakangi munculnya kesadaran akan perlunya dukungan terhadap gerakan ini, seperti yang diungkapkan oleh Tan.

Tan menyatakan bahwa Pan-Islamisme perlu didukung, meskipun ia menyadari bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan petinggi partai, yakni para Bolsyewik tua.

Baca juga: Takdir Negeri Lautan, Hanyalah Cerita Nenek Moyang

“Maka dari itu, saya bertanya sekali lagi, haruskah kita mendukung Pan-Islamisme,” kata Tan Malaka di akhir pidatonya dalam forum Komintren.

Meskipun ide persatuan antara Pan-Islamisme dan komunisme mendapat apresiasi dari delegasi Asia, tawaran tersebut ditolak dalam kongres. Dianggap tidak revolusioner, pimpinan Komintren wilayah Asia, Karl Radek, tidak terlalu menyukai ide tersebut.

Perjalanan Setelah Kongres

Setelah kongres, Tan Malaka yang diasingkan merasa bingung mengenai arah selanjutnya. Dengan tak mungkin kembali ke Indonesia atau ke Belanda, ia mencoba meminta Komintren untuk menyekolahkannya, tetapi permintaannya ditolak.

Dengan keputusasaan, Tan Malaka akhirnya menghabiskan waktunya di Moskow sebagai pengangguran. Meskipun demikian, ia tidak lama kemudian menemukan pekerjaan yang cukup menarik di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *