RUANGBICARA.co.id – Di balik gemerlap panggung dan euforia Eras Tour, Taylor Swift menyimpan pengalaman pahit yang jarang diketahui publik. Penyanyi pop global itu baru-baru ini mengungkap bagaimana dirinya menghadapi dampak emosional dari tragedi penusukan mematikan di Inggris pada 2024, sebuah insiden yang merenggut nyawa tiga anak dan terjadi di tengah rangkaian turnya di Eropa (14/12/2025).
Peristiwa tersebut mengguncang bukan hanya masyarakat setempat, tetapi juga Swift secara personal. Meski tragedi itu tidak terjadi di lokasi konsernya, waktu kejadian yang berdekatan dengan jadwal Eras Tour membuat suasana tur berubah drastis. Taylor mengaku harus tampil di hadapan puluhan ribu penonton sambil memikul duka dan rasa cemas yang mendalam.
BACA JUGA: Benarkah 78 Persen Lulusan Binus Sudah Bekerja? Ini Respons Wisudawan
Dalam pernyataannya, Taylor menggambarkan situasi itu sebagai salah satu momen tersulit sepanjang kariernya. Ia harus tetap profesional di atas panggung, namun di balik layar pikirannya dipenuhi kabar duka, terutama karena korban adalah anak-anak.
Dikutip dari media luar, Swift mengungkap tantangan terbesar bukan hanya soal keamanan, tetapi juga beban emosional—bagaimana menyampaikan pesan kebahagiaan lewat musik di saat dunia terasa tidak aman. Ia mengaku sempat mempertanyakan apakah pantas melanjutkan konser, namun akhirnya memilih tetap tampil sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan terhadap para korban.
Tragedi tersebut membuat sistem keamanan Eras Tour diperketat, terutama di wilayah Eropa. Namun bagi Taylor, tekanan terbesar justru datang dari sisi mental. Ia menyadari bahwa sebagai figur publik, setiap langkahnya diamati, sementara rasa takut dan empati bercampur menjadi satu.






