RUANGBICARA.co.id – Dunia maya memang memiliki ingatan yang sangat tajam. Tak butuh waktu lama bagi netizen untuk melakukan “bedah sejarah” setelah Aurelie Moeremans mengungkap kisah pilu masa remajanya yang dimanipulasi oleh sosok yang lebih tua. Nama Roby Tremonti pun mendadak viral, bukan karena prestasi baru, melainkan karena dituding sebagai “dalang” di balik luka lama tersebut oleh para pengguna media sosial (14/1/2026).
Keunikan sekaligus keganasan netizen kali ini terletak pada kecepatan mereka menyambungkan titik-titik masa lalu. Dalam bukunya, Aurelie hanya menggambarkan sosok “X” yang memanipulasi hidupnya saat ia masih sangat belia.
BACA JUGA: Aksi Gila Liam Hemsworth di Film Killerman, Saat Uang Haram Jadi Rebutan Polisi Korup
Namun, publik langsung mengaitkannya dengan Roby Tremonti, mengingat sejarah hubungan mereka yang sempat menuai kontroversi bertahun-tahun silam. Kolom komentar media sosial Roby pun seketika berubah menjadi medan penghakiman massa, meskipun hingga kini tidak ada pernyataan resmi dari Aurelie yang membenarkan asumsi tersebut.
Bensin di atas api spekulasi semakin berkobar ketika sebuah iklan layanan seluler jadul SimPATI kembali beredar luas di TikTok dan YouTube. Dalam iklan tersebut, Roby dan Aurelie tampil sebagai pasangan muda yang terlihat serasi dan romantis.
Dulu, iklan ini dianggap manis. Namun pada 2026, netizen melihatnya dengan kacamata berbeda. Potongan gambar tersebut kini dibubuhi narasi-narasi miring tentang grooming, menjadikan video lama itu sebagai senjata digital yang terus menyerang reputasi Roby.
Menghadapi serangan yang masif, Roby Tremonti akhirnya angkat bicara. Ia mengaku sangat terganggu dengan desas-desus yang berkembang tanpa bukti kuat. Roby mengungkapkan bahwa beberapa kontrak kerja dan proyeknya mulai terhambat karena pihak klien khawatir dengan citra buruk yang mendadak melekat pada namanya.
“Sangat tidak adil jika saya harus diadili oleh opini publik berdasarkan buku yang bahkan tidak menyebut nama saya. Pekerjaan saya mulai terganggu, dan ini sudah masuk ke ranah pembunuhan karakter,” ujar Roby dalam sebuah kesempatan bincang media.
Fenomena yang dialami Roby Tremonti menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara dukungan terhadap korban dan tindakan main hakim sendiri terhadap seseorang yang belum tentu bersalah, baik secara hukum maupun berdasarkan narasi dalam buku tersebut.






