Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari salah satu merek favorit emak-emak: Tupperware. Perusahaan wadah makanan ikonik asal Amerika ini dilaporkan terancam bangkrut setelah mengalami penurunan tajam dalam nilai sahamnya.
Dalam tiga tahun terakhir, saham Tupperware anjlok hingga kehilangan market cap sebesar 95%.
BACA JUGA:Â Membuka Pola Pikir Pebisnis Logistik Melalui Transformasi Bisnis
Keadaan Keuangan yang Mengkhawatirkan
Meskipun telah melakukan restrukturisasi pada tahun lalu, situasi keuangan Tupperware masih belum menunjukkan perbaikan. Pada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat, manajemen Tupperware mengakui ketidakmampuan mereka untuk menyampaikan laporan kinerja keuangan kuartal terbaru.
Selain itu, mereka juga menyampaikan bahwa laporan keuangan tahunan 2023 tidak akan dapat diselesaikan atau diajukan tepat waktu. Terakhir kali, Tupperware menyampaikan laporan keuangan pada September 2023.
Dampak Pandemi dan Masalah Utang
Selama pandemi, Tupperware sempat meraih keuntungan signifikan. Namun, dengan meredanya pandemi, perusahaan ini kembali menghadapi tantangan besar. Tupperware bahkan mempertimbangkan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menjual beberapa portofolio real estate-nya guna mengurangi biaya operasional.
Di samping itu, utang Tupperware mencapai USD 777 juta atau sekitar Rp 12 triliun. Bursa saham New York juga mengungkapkan bahwa saham Tupperware terancam dihapuskan dari pasar karena keterlambatan dalam mengajukan laporan tahunan.






