U-Solar 2.0: UOB Indonesia Dukung Kembangkan Tenaga Surya

JakartaPT Bank UOB Indonesia meluncurkan program U-Solar 2.0 sebagai upaya mendorong penyaluran pembiayaan hijau (green financing) di Indonesia. Melalui program ini, UOB Indonesia bisa memperluas penyaluran pembiayaan bagi ekosistem energi terbarukan (renewable energy).

Sector Solutions Group, Group Wholesale Banking, UOB Wasistho Soerono mengatakan program U-Solar 2.0 merupakan kelanjutan dari program U-Solar yang telah diluncurkan pada 2019. Program ini telah tersedia di 4 pasar UOB, termasuk di Indonesia.

Bank UOB Perluas Akses Pembiayaan Berkelanjutan

Pada U-Solar 2.0, bank memperluas cakupan akses pembiayaan berkelanjutan bagi kontraktor solar engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC) lokal serta pengembang proyek di Indonesia.

Dia mengatakan U-Solar 2.0 menawarkan dukungan end-to-end pada seluruh rantai nilai dan memberdayakan sektor tenaga surya untuk berkembang.

Program ini memfasilitasi kolaborasi pemain kunci industri energi solar, memastikan aliran pembiayaan yang memenuhi permintaan tenaga surya tinggi. Bank menjalin kemitraan dengan 21 pengembang dan kontraktor tenaga surya, termasuk PT Optima Daya Energi (Innisolar), PT Selaras Daya Utama (SEDAYU) Energi, dan TML Energi.

U-Solar 2.0 masuk kerangka kerja pembiayaan berkelanjutan dari UOB

Direktur Wholesale Banking, UOB Indonesia Harapman Kasan mengatakan U-Solar 2.0 masuk ke dalam kerangka kerja atau framework pembiayaan berkelanjutan dari UOB. Program ini bertujuan mendukung adopsi energi hijau yang lebih luas, memperkuat kemitraan dengan para pemain industri, serta memungkinkan klien untuk mencapai tujuan dekarbonisasi mereka.

“Melalui U-Solar 2.0, kami dapat bantu nasabah terhubung dengan ekosistem tenaga surya dan menciptakan ekonomi rendah karbon,” ujar Harapman saat konferensi press pada acara Indosolar Expo 2023 di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara Jakarta, Selasa (25/7/2023).

Program U-Solar sendiri telah menggaet 200 perusahaan dan 1.700 pemilik rumah dengan memfasilitasi transisi mereka ke tenaga surya. Hingga kini, program tersebut inilai telah berkontribusi pada pengurangan lebih dari 350.000 ton emisi gas rumah kaca.

UOB berupaya memajukan penyaluran hijau di Indonesia karena potensinya yang besar. Menurut UOB Business Outlook Study terbaru, 97% bisnis menempatkan keberlanjutan sebagai prioritas utama. 47% bisnis juga sudah menerapkan praktik keberlanjutan dalam bisnis mereka.

Baca juga: Peran Strategis Tenaga Surya dalam Percepatan Transisi Energi

Meski begitu, terdapat kekhawatiran dari bisnis terkait kenaikan biaya produk dan layanan yang mereka tawarkan. Oleh karena itu, pembiayaan diperlukan.

Di sisi lain, 7 dari 10 bisnis menyatakan bahwa keberlanjutan membantu menarik investor. Sementara 3 dari 5 bisnis menyatakan bahwa keberlanjutan membantu meningkatkan reputasi dan merek bisnis mereka.

Ditambah lagi, Pemerintah Indonesia terus berupaya mengejar target net zero emissions.

“Perjalanan transisi pun membutuhkan pendanaan yang besar. Butuh 708 giga watt untuk renewable energy. Ribuan triliun rupiah potensi bisnisnya,” tutup Harapman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar