Unik! Perayaan Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia

RUANGBICARA.co.id – Lebaran Hari Raya Idul Adha merupakan hari besar keagamaan bagi umat Islam seluruh Indonesia dan yang selalu dinanti-nantikan momennya. Hari Raya Idul Adha 2023 di Indonesia jatuh pada hari Kamis, 28 Juni 2023. Biasanya momentum lebaran Idul Adha diperingati dengan menyembelih hewan qurban seperti Sapi, Kambing atau Domba, lalu membagikan dagingnya kepada orang-orang tidak mampu.

Namun, ada hal yang unik di beberapa daerah di Indonesia. Lebaran bukan hanya identik dengan penyembelihan hewan qurban. Misalnya di Semarang, ada Apitan dan daerah lainnya dengan berbagai macam cara unik merayakannya.

Berikut daerah yang dengan tradisi unik merayakan Lebaran Idul Adha.

1) Tradisi Apitan di Semarang

Tradisi Apitan menjadi tradisi unik perayaan lebaran Idul Adha di Semarang. Tradisi ini merupakan bagian refleksi dari rasa syukur atas rezeki berlimpah seperti panen dan lainnya yang diberikan oleh Allah SWT.

Menariknya disini, tradisi Apitan diisi dengan pembacaan do’a. Lalu, ada arak-arakan hasil tani, ternak juga nantinya hasil bumi yang diarak tadi dikerumungi berebutan oleh masyarakat setempat.

Di Semarang, tradisi ini biasa diisi dengan pembacaan do’a yang dilanjutkan dengan arak-arakan hasil tani, ternak, dan nantinya hasil tani yang diarak ini akan diambil secara berebutan oleh masyarakat setempat.

Kebiasaan atau tradisi ini sudah diadakan sejak dulu dilakukan oleh para Wali Songo sebagai bentuk rasa syukur perayaan Idul Adha. Bagi siapapun yang menyaksikan tradisi ini, juga akan disuguhkan dengan hiburan khas kearifan lokal.

2) Tradisi Manten Sapi di Pasuruan

Di Pasuruan ada Tradisi Manten Sapi, yang menarik di Tradisi ini hewan qurban yang akan disembelih didandani cantik ala penganten perempuan. Hal ini merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada hewan qurban yang akan disembelih. Tak hanya itu hewan qurban itu juga dikalungkan bunga tujuh rupa, lalu dibalut dengan kain kafan, serban, dan sajadah.

Pada tradisi ini, kain kafan menjadi tanda kesucian orang yang berqurban. Setelah didandani, semua sapi akan diarak menuju masjid setempat untuk diserahkan kepada panitia kurban. Yang lebih berkesannya lagi, daging sapi kurban ini biasanya  akan diolah dan disantap bersama-sama.

3) Tradisi Grebeg Gunungan di Yogyakarta

Terlihat mirip dengan tradisi Apitan di Semarang, di Yogyakarta ada namanya Grebeg Gunungan yang dirayakan langsung masyarakat setempat.

Grebeg Gunungan ini dirayakan dengan mengarak hasil bumi dari halaman Keraton sampai Masjid Gede Kauman. Arak-arakan hasil bumi ini berjumlah 3 buah gunungan yang tersusun dari rangkaian sayur-mayur dan buah.

Tak hanya perayaan Idul Adha di Yogyakarta, tradisi ini dilaksanakan setiap hari besar agama Islam. Misalnya seperti Grebeg Syawal dilaksanakan saat Idul Fitri dan peringatan hari besar Islam lainnya. Kepercayaan masyarakat terhadap tradisi ini ketika berhasil mengambil hasi bumi yang berbentuk gunungan akan mendatang rezeki.

4) Tradisi Gamelan Sekaten di Cirebon

Tradisi selanjutnya ada di Cirebon, namanya tradisi Gamelan Sekaten. Konon tradisi ini merupakan model dakwah dari Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam di tanah Cirebon.

Tradisi Gamelan Sekaten ini, dibunyikan setiap perayaan hari besar agama Islam yaitu, Idul Fitri dan Idul Adha. Alunan Gamelan yang berada di sekitar area Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi penanda bahwa umat Muslim di Cirebon merayakan hari kemenangan. Rangkaian Gamelan dibunyikan sesaat setelah sultan Keraton Kasepuhan keluar dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

5) Tradisi Meugang di Aceh

Aceh memiliki tradisi perayaan hari besar Islam, yaitu tradisi Meugang yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Tradisi ini identik dengan makan daging sapi atau lainnya untuk dimakan dan dimasak secara bersama-sama dengan beraneka ragam masakan.

Konon tradisi ini, diawali pada masa kerajaan Aceh dengan memotong hewan dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Tradisi ini merupakan ungkapan syukur atas kemakmuran tanah Aceh dan sampai saat ini tetap dilestarikan oleh seluruh masyarakat Aceh saat menyambut hari-hari besar umat Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar