RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Pasuruan akhirnya memberikan klarifikasi terkait pemecatan guru ASN bernama Nur Aini. Kasus ini sebelumnya ramai diperbincangkan publik usai curhatannya soal jarak tempuh mengajar sejauh 114 kilometer viral di media sosial.
Namun demikian, di tengah simpati warganet yang mengalir deras, BKPSDM menegaskan bahwa pemecatan tersebut tidak berkaitan dengan viralnya unggahan Nur Aini, melainkan murni karena pelanggaran disiplin aparatur sipil negara.
BACA JUGA:Â Gaji PPPK Diminta Masuk Beban APBN
Kepala Bidang Penilaian Kinerja Aparatur dan Penghargaan BKPSDM Kabupaten Pasuruan, Devi Lambarsari, menjelaskan bahwa Nur Aini terbukti melanggar aturan kepegawaian. Ia tercatat tidak masuk kerja selama lebih dari 28 hari tanpa keterangan yang sah.
Oleh karena itu, pelanggaran tersebut masuk dalam kategori pelanggaran berat sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
Lebih lanjut, Devi menyebut pelanggaran Nur Aini mengacu pada Pasal 4 huruf F yang mewajibkan setiap ASN untuk masuk kerja dan menaati jam kerja. Berdasarkan hasil pemeriksaan administrasi dan kehadiran di lapangan, BKPSDM menilai Nur Aini tidak menjalankan kewajibannya sebagai ASN.
Pemberhentian Tetap
Selain itu, kasus pemecatan ini juga telah ditindaklanjuti oleh Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN). Setelah melakukan penilaian secara menyeluruh, KASN mengeluarkan keputusan berupa pemberhentian tetap terhadap Nur Aini sebagai ASN.
Dengan demikian, BKPSDM Kabupaten Pasuruan menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan fakta administratif dan ketentuan hukum yang berlaku, bukan karena tekanan opini publik akibat viral di media sosial.
Sebelumnya, Nur Aini (38), guru asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, mengunggah video yang menceritakan perjuangannya mengajar di SDN 2 Mororejo, Kecamatan Tosari. Sekolah tersebut berada di kawasan pegunungan di kaki Gunung Bromo.
Dalam unggahannya, Nur Aini mengaku harus menempuh jarak ratusan kilometer setiap hari dari rumah menuju sekolah. Akibatnya, kisah tersebut memantik simpati luas dari warganet yang menilai perjuangannya layak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah.






