Selain itu, ketebalan pita suara dan cara menarik serta mengeluarkan napas juga menjadi faktor yang memengaruhi perbedaan bunyi tawa. Seseorang dengan pita suara yang lebih tebal atau cara bernapas yang berbeda dapat menghasilkan suara tawa yang terdengar tidak biasa.
Pengaruh Bentuk Mulut dan Rongga Hidung
Tidak hanya itu, bentuk mulut dan rongga hidung juga memengaruhi bagaimana suara tawa terdengar. Orang yang memiliki bentuk mulut lebih lebar atau posisi lidah yang berbeda mungkin akan menghasilkan tawa dengan bunyi yang lebih menonjol dan khas. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa tawa seseorang bisa terdengar berbeda, termasuk bunyi “ang ang ang” yang viral ini.
Kondisi Emosi dan Pengaruh Stres
Mayo Clinic menjelaskan bahwa tertawa adalah respons alami tubuh yang kerap menjadi bentuk pelepasan stres dan ketegangan. Oleh karena itu, dalam beberapa situasi, suara tawa seseorang dapat terdengar berbeda tergantung kondisi emosional mereka.
Penelitian menunjukkan, gaya tawa seseorang bisa bervariasi berdasarkan perasaan yang sedang dirasakannya.
Seseorang yang merasa sangat gembira, misalnya, cenderung tertawa lebih keras atau dengan gaya tawa yang tidak terkendali. Sebaliknya, ketika seseorang sedang cemas atau stres, mereka mungkin tertawa dengan suara yang lebih canggung atau tidak biasa.
Ini terjadi sebagai bentuk mekanisme pertahanan psikologis yang sering kali digunakan untuk menutupi kecanggungan dalam situasi sosial.
Pengaruh Lingkungan Sosial
Tidak hanya faktor medis dan psikologis, lingkungan sosial juga memainkan peran dalam mempengaruhi gaya tawa seseorang. Psychology Today menjelaskan bahwa tawa bersifat menular. Orang cenderung meniru gaya tawa orang di sekitarnya, terutama jika gaya tawa tersebut dianggap lucu atau populer di lingkungan tersebut.
BACA JUGA:Â Demi Dapatkan Hadiah, Inilah Link Video Yanti TKW yang Buka-bukaan hingga Viral
Pada akhirnya, viralnya bunyi “ang ang ang” di TikTok tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi juga membuka wawasan baru mengenai bagaimana tawa seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik secara medis maupun psikologis.






