RUANGBICARA.co.id – Panggung media sosial Indonesia kembali memanas di awal tahun 2026. Sosok Julia Prastini, yang dulu dipuja karena kisah cintanya yang bak “K-Drama” di dunia nyata, kini harus menghadapi gelombang kritik paling keras sepanjang kariernya.
Keputusannya untuk tampil tanpa hijab bukan sekadar perubahan penampilan, melainkan dianggap sebagai “pengkhianatan” terhadap citra yang selama ini ia bangun di mata pengikutnya (6/1/2026).
BACA JUGA: Ketika Tur Wisata Berubah Jadi Medan Perang: Aksi “Daddy Goals” Channing Tatum di White House Down
Unggahan terbaru Jule yang memperlihatkan rambut terurainya langsung disambut komentar pedas. Bagi sebagian netizen, hijab bukan sekadar pakaian, melainkan identitas yang melekat pada Jule sejak ia dikenal publik sebagai istri dari pria asal Korea, Daehoon.
Reaksi netizen pun tidak main-main. Di platform TikTok dan Instagram, narasi “blokir massal” mulai menggema. Netizen merasa “tertipu” oleh persona yang selama ini ditampilkan, hingga banyak yang memutuskan untuk tidak lagi memberikan panggung bagi konten-konten Jule di masa depan.
Kemarahan netizen sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba hanya karena urusan hijab. Keputusan ini dianggap sebagai puncak dari rentetan kontroversi yang sebelumnya sudah menghiasi rekam jejak Jule, antara lain:
1. Narasi “Korean Dream” yang Dinilai Terlalu Utopis
Dulu, Jule dan Daehoon adalah potret pasangan ideal. Namun, seiring berjalannya waktu, drama rumah tangga yang sempat bocor ke publik membuat netizen merasa bahwa romansa indah yang dijual di media sosial hanyalah bumbu demi engagement. Ekspektasi tinggi netizen terhadap hubungan “halu” ini berujung pada kekecewaan besar.
2. Drama Hubungan yang Kerap “Tumpah” ke Publik
Jule beberapa kali terseret dalam pemberitaan mengenai dinamika hubungannya yang naik-turun. Seringnya kehidupan pribadi yang sangat sensitif diumbar di media sosial membuat sebagian pengikutnya merasa lelah dengan pola “konten drama” yang seolah tidak ada habisnya.
3. Ketidakkonsistenan Persona
Netizen sering kali menyoroti perubahan sikap dan gaya bicara Jule yang dianggap berubah drastis seiring dengan popularitasnya. Hal ini memicu sentimen bahwa Jule kehilangan jati diri aslinya demi mengikuti tren atau sekadar mencari perhatian publik.
Apa yang terjadi pada Jule menjadi bukti nyata rapuhnya parasocial relationship atau hubungan searah antara penggemar dan idola. Saat seorang influencer membangun citra berdasarkan nilai-nilai tertentu—dalam hal ini religiusitas dan kesempurnaan hubungan—perubahan sekecil apa pun dapat dianggap sebagai runtuhnya “janji” kepada para pengikutnya.






