Wamen Stella Ungkap Bahaya Diam-Diam Gadget bagi Perkembangan Anak

RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan bahwa hubungan langsung antara orang tua dan anak di dalam keluarga memegang peranan penting dalam membentuk karakter sekaligus kecerdasan anak sejak dini.

Sebagai pakar psikologi kognitif, Stella menyoroti tantangan yang dihadapi keluarga di wilayah perkotaan, terutama kebiasaan menggunakan gawai yang kian mendominasi dan menggerus kualitas kebersamaan, termasuk saat waktu makan bersama.

BACA JUGA: Dilantik Prabowo Jadi Wamendagri, Ternyata Akhmad Wiyagus Punya Riwayat Jabatan Bukan Kaleng-Kaleng

“Banyak waktu kita, bahkan saat makan malam, dihabiskan masing-masing dengan layar. Padahal, makan malam adalah momen krusial di mana tidak ada alasan anak sedang sekolah atau orang tua bekerja di luar rumah,” katanya melalui keterangan di Jakarta, Senin, (5/1/2026).

Ia memaparkan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan waktu hingga tiga jam delapan menit per hari untuk bermedia sosial. Durasi tersebut meningkat menjadi sekitar tujuh jam jika digabung dengan penggunaan internet secara keseluruhan. Kondisi ini lebih mencolok pada Generasi Z yang mencatatkan penggunaan media sosial hingga empat jam setiap hari.

Stella juga menguraikan temuan ilmiah dari eksperimen yang dilakukan Profesor DeLoach terkait proses belajar pada anak usia dini. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa balita yang memperoleh pembelajaran kosa kata melalui komunikasi langsung dengan orang tua memiliki hasil yang jauh lebih baik dibandingkan anak yang hanya belajar dari tayangan video edukatif, meskipun didampingi orang tua.

“Ada fenomena 10 ribu word gap pada usia lima tahun. Anak yang jarang berbincang dengan orang tuanya memiliki kosa kata yang lebih rendah, yang secara langsung memprediksi kemampuan belajar mereka di sekolah di masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Stella mendorong orang tua untuk membiasakan dialog dua arah yang berkualitas dengan anak. Menurutnya, jawaban yang disampaikan sebaiknya tidak sekadar singkat, melainkan mampu membangun cara berpikir dan membuka ruang diskusi.

“Bertanya dan menjawab adalah bentuk active learning. Jika anak hanya dibiarkan dengan gawai, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar secara aktif, karena gawai tidak bisa memberikan umpan balik langsung terhadap rasa penasaran mereka,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Stella mengingatkan bahwa keluarga merupakan ruang utama penanaman nilai dan pembentukan memori bahagia. Ia menekankan bahwa ketika interaksi di meja makan tergantikan oleh layar, anak justru menyerap nilai dari algoritma kecerdasan buatan dan media sosial, bukan dari orang tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *