RUANGBICARA.co.id – Perdebatan mengenai mana yang lebih utama antara ilmu dan akhlak kerap muncul di tengah masyarakat. Mayoritas orang beranggapan bahwa akhlak atau adab harus selalu didahulukan. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan penjelasan KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha.
Dalam berbagai kesempatan pengajian, Gus Baha justru menegaskan bahwa, ilmu harus didahulukan dibanding akhlak. Penjelasan ini bukan untuk merendahkan pentingnya adab, melainkan untuk menempatkan keduanya secara proporsional sesuai tuntunan keilmuan Islam.
BACA JUGA: Viral Prosesi Talak Mati di Kuburan, Apakah Boleh dalam Islam? Ini Jawabannya
Murid Syaikhona KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) ini memulai penjelasannya dengan kisah Rasulullah SAW yang sarat makna. Ia mengisahkan peristiwa ketika Rasulullah memperpanjang sujud dalam salat karena cucunya, Hasan, menaiki punggung beliau.
Riwayat Masyhur
Dalam riwayat yang masyhur, para sahabat sempat mengira Rasulullah menerima wahyu karena lamanya sujud tersebut. Namun setelah seorang sahabat menengadah, barulah diketahui bahwa Rasulullah sengaja memanjangkan sujud agar cucunya tidak merasa kecewa.
“Rasulullah sebenarnya ingin sujud seperti biasanya, tapi ada cucu beliau. Alasannya sederhana: supaya cucunya tidak kesal,” tutur Gus Baha, dikutip dari tayangan video YouTube @santritepiankapuas, Senin (19/1/2026).
Menurut Gus Baha, peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kebajikan yang tidak menimbulkan masalah baru, terutama bagi anak-cucu dan generasi setelahnya. Kebaikan tidak boleh dilakukan dengan cara yang justru menyisakan luka atau trauma.
Pandangan tersebut kemudian ia kaitkan dengan fenomena masa kini, ketika sebagian masjid melarang anak kecil masuk karena dianggap mengganggu kekhusyukan ibadah. Gus Baha menilai, sikap semacam itu lahir dari cara pandang etika yang keliru.
“Kalau anak kecil bermain di masjid lalu dimarahi, itu sering kali bukan karena ibadahnya terganggu, tapi karena khotibnya merasa tersinggung,” ujar Gus Baha.
Padahal, secara ilmu fiqih, suara anak kecil bukan bagian dari rukun maupun syarat sah ibadah.
Di sinilah Gus Baha menegaskan bahwa: ilmu itu muqaddam ‘alal adab, yakni ilmu harus didahulukan dibanding etika. Etika memang penting, tetapi tidak boleh bertentangan dengan ketentuan ilmu yang bersifat wajib (fardhu ‘ain).






