RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Industri obat dan makanan yang berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut, sektor ini menyumbang sekitar Rp6.000 triliun per tahun atau setara 35–40 persen dari total kontribusi industri nasional.
Angka tersebut, menurut Taruna, menjadi salah satu landasan optimisme pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
BACA JUGA: IHSG Ambruk 6,8%, Ini Pemicunya
“Betul, 8 persen. Kita punya kerangka yang jelas. BPOM memiliki kontribusi revenue dari seluruh industri yang berada di bawah pengawasan kita. Jumlahnya jutaan industri dan totalnya sekitar enam ribu triliun setiap tahun,” kata Taruna kepada Ruang Bicara usai memberikan keynote speaker dalam seminar internasional rangkaian HUT ke-25 BPOM, yang digelar di Aula Gedung Bhinneka Tunggal Ika, Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2026).
Dukung Program Prioritas Presiden
Dalam kesempatan tersebut, Taruna menegaskan komitmen BPOM untuk terus memperkuat perannya, khususnya dalam mendukung program-program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
“Kita sangat berharap BPOM semakin berperan dalam pengawasan obat dan makanan. Kemudian kita akan men-support secara maksimal program-program prioritas Presiden, seperti makan bergizi gratis,” ujarnya.
Tak hanya itu, BPOM juga akan memperkuat dukungan di sektor kesehatan, khususnya **kedokteran dan kefarmasian**. Taruna menilai, meski jumlah rumah sakit di Indonesia terus bertambah, kualitas instalasi kefarmasian dan penguatan aspek gizi masih perlu ditingkatkan.
“Rumah sakit kita sudah cukup banyak, tapi instalasi kefarmasian masih belum maksimal, termasuk di fakultas-fakultas kedokteran. Pengembangan penilaian pendidikan yang berhubungan dengan obat dan nilai gizi itu sangat penting,” jelasnya.






