RUANGBICARA.co.id, Jakarta – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk resmi mengumumkan arah baru strategi bisnisnya usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Selasa (14/4/2026) di Jakarta.
Di tengah tantangan ekonomi global yang masih membayangi, perseroan justru mengambil langkah progresif dengan menggeser fokus bisnisnya. Jika sebelumnya pendapatan lebih banyak bertumpu pada penjualan tiket, kini Ancol menitikberatkan pada peningkatan nilai dari setiap pengunjung melalui pengalaman (experience) yang lebih menyeluruh.
BACA JUGA: Sepanjang Tahun 2025, PT Pembangunan Jaya Ancol Bukukan Laba Rp 180 Miliar
Manajemen menyebut, berbagai langkah inovasi dan efisiensi operasional telah dilakukan untuk menjaga kinerja tetap stabil. Digitalisasi layanan ticketing, peningkatan fasilitas pengunjung, hingga pengembangan konten dan event tematik menjadi bagian dari strategi tersebut.
“Perseroan tetap fokus pada inovasi dan efisiensi operasional, seperti digitalisasi layanan ticketing, peningkatan fasilitas pengunjung, serta pengembangan konten/event tematik baru, sehingga berhasil mempertahankan pendapatan seperti tahun lalu,” kata manajemen dalam keterangan resminya.
Lebih dari sekadar bertahan, Ancol kini berada pada titik krusial untuk melangkah ke fase transformasi berikutnya. Perubahan perilaku konsumen di industri wisata menjadi alasan utama di balik pergeseran strategi ini.
“Industri destinasi wisata dan leisure telah berubah secara fundamental. Customer/visitor tidak lagi hanya menikmati tempat desitnasi tetapi lebih dari itu bagaimana customer dapat menikmati sebuah pengalaman baru (experiences), konekssi dan value/nilai dari yang telah mereka keluarkan. Ancol di masa depan harus bergeser dari sekedar destinasi kunjungan menjadi destinasi yang memberikan experiences, membangun ekosistem yang terintegrasi,” tambahnya.
Fokus Utama Bisnis
Untuk menjawab perubahan tersebut, Ancol mengusung empat fokus utama sebagai fondasi strategi bisnis ke depan. Pertama, meningkatkan value per customer, yakni tidak hanya mengejar jumlah pengunjung, tetapi juga memaksimalkan nilai dari setiap kunjungan. Kedua, optimalisasi aset dan ekosistem dengan mengelola seluruh potensi kawasan secara terintegrasi. Ketiga, pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan keputusan agar strategi lebih akurat dan efektif. Keempat, memperkuat kolaborasi strategis jangka panjang guna meningkatkan daya saing.
Transformasi ini, menurut manajemen, tidak hanya berhenti pada tataran strategi, tetapi juga menyentuh aspek budaya kerja dan sumber daya manusia di dalam perusahaan.
“Transformasi ini bukan hanya strategi semata, tetapi lebih kepada menanamkan sebagai budaya kerja (culture) dan sumberdaya manusia (people) dengan disiplin ketat untuk eksekusi yang tepat,” lanjutnya.
Dengan semangat baru tersebut, Ancol menargetkan dapat menjadi destinasi yang lebih relevan dan memberikan dampak lebih luas, tidak hanya bagi pengunjung tetapi juga bagi pemegang saham dan kota Jakarta secara keseluruhan.
“Ke depan, ada sebuah semangat baru untuk membangun Ancol yang lebih relevan dan lebih berdampak bagi masyarakat, bagi pemegang saham dan bagi masa depan kota Jakarta,” katanya.
Dalam RUPST yang sama, perseroan juga melaporkan kinerja keuangan yang tetap solid sepanjang tahun buku 2025. Pendapatan usaha tercatat mencapai Rp1,121 triliun dengan laba bersih sebesar Rp180,19 miliar.
“RUPS menyetujui pembayaran dividen sebesar Rp 26,05 per lembar saham yang totalnya mencapai Rp 41.6 miliar atau 23,13 % dari laba bersih. Sepanjang 2025, Perseroan mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 1.121 triliun dengan laba bersih tahun berjalan Rp 180.19 miliar,” ujarnya.






