RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Perdebatan mengenai kapan dimulainya 1 Ramadan kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Namun, tahun 2026 ini membawa warna baru dalam dinamika perbedaan tersebut. Profesor Riset Astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa penyebab perbedaan kali ini bukan lagi sekadar soal metode “Hisab” atau “Rukyat” tradisional.
Dalam penjelasannya, Thomas Djamaluddin menekankan bahwa perbedaan tahun ini berakar pada penggunaan kriteria Hilal Lokal (wilayah Indonesia dan sekitarnya) melawan Hilal Global (Kalender Hijriah Global Tunggal/KHGT).
BACA JUGA:Â Strategi Purbaya Pacu Ekonomi Lewat Belanja Rp809 Triliun
“Jika pada periode 1990-an hingga 2025 perbedaan biasanya terjadi karena ambang batas ketinggian (seperti 2 derajat vs 3 derajat), tahun ini perbedaannya lebih fundamental. Berdasarkan pengamatan astronomi di Indonesia pada petang 17 Februari, posisi bulan masih berada di bawah ufuk, yakni berkisar antara -2,4 hingga -0,9 derajat,” ujar Thomas saat diwawancara dalam saluran televisi, Selasa (17/2/2026).
Meski di Indonesia hilal masih bersembunyi di bawah garis cakrawala, kriteria Global (KHGT) yang digunakan oleh sebagian organisasi seperti Muhammadiyah memiliki parameter yang berbeda.
Kriteria Lokal: Fokus pada visibilitas di wilayah Indonesia dan negara MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura). Dengan posisi bulan yang masih negatif, secara astronomis hilal mustahil terlihat. Oleh karena itu, awal Ramadan diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari.












