RUANGBICARA.co.id – Perceraian sering dipandang sebagai akhir dari relasi suami istri. Namun bagi anak, peristiwa ini bisa menjadi pengalaman emosional yang mengguncang fondasi rasa aman.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, perceraian yang disertai konflik dan ketidakstabilan berpotensi berkembang menjadi trauma perkembangan—yakni luka psikologis yang memengaruhi proses tumbuh kembang anak hingga dewasa.
Mengutip konsep developmental trauma, yang menjelaskan bahwa pengalaman menyakitkan yang terjadi pada masa kanak-kanak—terutama dalam relasi dengan pengasuh utama—dapat membentuk struktur emosional dan pola respons individu di kemudian hari.
BACA JUGA: Memahami Dinamika di Balik Kasus Rizky Febian dan Teddy Pardiyana, Ini Tinjauan Secara Psikologinya
Selain itu, mengutip Bessel van der Kolk (2014), juga menegaskan bahwa trauma masa kecil tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga “direkam” oleh tubuh dan sistem saraf. Pengalaman penuh stres yang berlangsung berulang dapat memengaruhi cara otak mengatur emosi, rasa aman, dan kelekatan dengan orang lain.
Sejalan dengan itu, studi besar tentang Adverse Childhood Experiences (ACEs) oleh Felitti dan rekan-rekannya (1998) menunjukkan bahwa pengalaman keluarga yang penuh tekanan—termasuk perceraian, konflik rumah tangga, dan kehilangan figur orang tua—berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan mental di masa dewasa, seperti kecemasan, depresi, dan kesulitan membangun hubungan yang sehat.
Dengan kata lain, perceraian dapat menjadi titik awal perubahan pola perkembangan emosional anak apabila tidak dikelola secara suportif.
Ketika Rasa Aman Terputus
Anak membangun pemahaman tentang dunia melalui hubungan dengan orang tua. Dalam teori attachment, John Bowlby (1988) menjelaskan bahwa kelekatan yang stabil dan responsif menciptakan rasa aman yang menjadi dasar kesehatan psikologis.
Ketika perceraian terjadi dalam suasana konflik berkepanjangan, inkonsistensi pengasuhan, atau hilangnya salah satu figur secara emosional, anak dapat mengembangkan pola kelekatan yang tidak aman, seperti:
-
Anxious attachment, ditandai dengan ketakutan berlebihan akan ditinggalkan
-
Avoidant attachment, ditandai dengan kecenderungan menjauh dari kedekatan emosional
Pola ini tidak berhenti di masa kanak-kanak. Ia dapat terbawa hingga relasi romantis, pertemanan, bahkan hubungan profesional di usia dewasa.












