RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Di tengah keterbatasan ruang fiskal daerah, Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) mengusung strategi baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis daerah. Melalui ajang Pemilihan Putri Otonomi Indonesia (POI) 2026, Apkasi membidik lonjakan sektor pariwisata dan investasi nasional dengan pendekatan kreatif dan kolaboratif.
Program ini resmi dimulai melalui sosialisasi daring pada Kamis (2/4/2026). Apkasi menegaskan bahwa POI bukan sekadar kontes kecantikan, melainkan instrumen diplomasi ekonomi untuk memperkenalkan potensi daerah ke tingkat nasional hingga global.
BACA JUGA: Sebelum Berlaga di Putri Indonesia 2026, Karina Moudy Sambangi Kantor Apkasi untuk Minta Restu
Sekretaris Jenderal Apkasi yang juga Bupati Minahasa Utara, Joune JE Ganda, menegaskan bahwa pemerintah kabupaten kini harus lebih adaptif. Ketergantungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dinilai tidak lagi cukup untuk menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, kekuatan daerah terletak pada kemampuan membangun narasi positif yang mampu menarik perhatian investor dan wisatawan.
“POI adalah wajah otonomi daerah yang dinamis. Generasi muda berperan sebagai duta yang membawa cerita produktif tentang potensi lokal,” ujar Joune.
Direktur Eksekutif Apkasi, Sarman Simanjorang, menyebut POI telah berkembang menjadi platform strategis dalam melahirkan talenta unggul daerah. Ajang ini bahkan menjadi “launchpad” bagi peserta untuk menembus kompetisi nasional.
Ia mencontohkan keberhasilan Firsta Yufi Amarta (POI 2023) yang berhasil menjadi juara pertama Putri Indonesia 2025, serta Karina Moudy yang kini melaju sebagai perwakilan DKI Jakarta di ajang serupa.
“Ini bukti bahwa talenta dari kabupaten memiliki daya saing tinggi. Kami ingin mereka tidak hanya unggul di pageant, tapi juga dalam kepemimpinan,” jelas Sarman.
Selain itu, program inovatif seperti “Sehari Menjadi Menteri” menjadi bagian dari upaya membentuk kapasitas kepemimpinan generasi muda daerah.












