“Saya baru mendengar lembaga survei paradigma ini. Saat saya cek, yang terdaftar di KPU ada 63 lembaga survei dan tidak ada nama paradigma. Mohon maaf jika saya meragukan kredibilitas lembaga ini,” tambah dia.
Nama-nama Baru yang Mengejutkan
Ridwan juga meragukan kemunculan nama baru sebagai penantang di Pilkada 2024. Contohnya, Faizal Hermansyah yang dalam survei ini tingkat keterpilihan dan popularitasnya mengalahkan tokoh seperti Oong Syahroni dan Ade Hidayat dari rekan se-partainya dari Gerindra.
“Faizal hanya meraih 11.438 suara dalam pileg kemarin, sementara Oong Syahroni meraih 35.556 suara dan Ade Hidayat mendapatkan 30.172 suara,” ucap mahasiswa Fisip Untirta ini.
Ia juga mempertanyakan kemunculan nama Aef Syaefudin yang melampaui nama politisi beken di Lebak.
“Nama-nama beken seperti Neng Siti Julaiha, Ria Rahmayani, Oong Syahroni, Ade Hidayat, Musa Weliansyah, Imannudin Karis, Suparman, Regen Abdul Aris, Mahpudin dan Efu Saefullah kalah hasil surveinya dengan nama baru yang muncul di Pilkada Lebak. Nama-nama beken tersebut tidak ada dalam daftar survei,” jelas Ridwan.
PorpoliZ Ajak Masyarakat Lebih Kritis
PorpoliZ mengajak masyarakat, terutama Gen-Z, untuk lebih kritis dan bijak dalam menyikapi informasi terkait Pilkada 2024.
“Masyarakat harus melihat track record dan menilai kapasitas serta kapabilitas calon pemimpin untuk Lebak,” ujar Ridwan.
PorpoliZ juga mengakui bahwa hasil survei Paradigma membawa warna baru dalam dinamika politik di Lebak, meski data tersebut harus jelas pertanggungjawabannya kepada publik agar tidak menggiring pemilih ke kandidat tertentu.
BACA JUGA:Â Tak Ingin Calon Tunggal, Porpoliz Beberkan Pesaing Kuat di Pilkada Lebak
“Yang terpenting Pilkada Lebak jangan sampai melawan kotak kosong kembali. Pertanggungjawabannya juga harus jelas, karena demokrasi harus tetap hidup di Lebak. Semua berhak tampil, bersaing, dan berbuat yang terbaik untuk Kabupaten Lebak,” tutupnya.












