Langkah Mendesak
Dalam menghadapi bencana ini, Prof. Agus menegaskan bahwa pemerintah harus mengutamakan penanganan korban terlebih dahulu. “Jadi tenaganya full untuk korban. Korban yang masih hidup, yang hilang itu harus segera temukan kembali,” tegasnya.
Setelah itu, pemerintah dapat melanjutkan ke tahap tanggap darurat untuk pemulihan fasilitas publik, pembangunan jembatan, hingga rekonstruksi perumahan yang terdampak.
Sebagai upaya pencegahan, Prof. Agus mendorong penerapan konsep ekohidrolik dalam pembangunan. Upaya ini dilakukan dengan mengelola sungai dan lingkungan secara terpadu agar mampu mengurangi dampak banjir di masa mendatang.
“Misalnya sungai-sungai yang melebar itu ya harus ditanami dengan tanaman-tanaman yang cepat tumbuh sehingga sedimennya bisa dihentikan. Fungsinya untuk menstabilkan lereng sungai,” jelasnya.
Sebelumnya diketahui, Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami bencana banjir bandang dan longsor di penghujung November 2025 yang menelan korban jiwa hampir 700-an orang. Infrastruktur rusak, ribuan rumah terendam, hingga ribuan warga terpaksa mengungsi dalam waktu singkat.
Berdasarkan Data Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera 2025 BNPB, tercatat 753 orang meninggal, 650 hilang, dan 2.600 luka-luka. Kerusakan juga terjadi pada 3.600 rumah rusak berat, 2.100 rusak ringan, serta kerusakan fasilitas umum mulai dari jembatan 39,34%, pendidikan 42,5%, ibadah 16,97%, hingga fasilitas kesehatan 1,18%.
BACA JUGA: Pemerintah Bentuk Satgas PKH, WALHI Siap Ungkap Data Perusahaan Perusak Lingkungan
Jumlah pengungsi juga sangat besar dengan total mencapai 3,3 juta jiwa, masing-masing 1,5 juta di Aceh, 1,7 juta di Sumatera Utara, dan 141.800 jiwa di Sumatera Barat. BNPB menyatakan data tersebut masih terus diperbarui seiring proses asesmen dan pencarian korban.












