Marni (40), penjual lontong pecel, mengaku bersyukur dengan ramainya pengunjung yang membuat dagangannya selalu laris. “Alhamdulillah, setiap Minggu selalu ramai. Dagangan cepat habis. Kami senang bisa ikut meramaikan dan memperkenalkan kuliner lokal,” katanya.
Ia menambahkan, para pelaku UMKM tidak dikenakan biaya sewa stan, sehingga pendapatan yang diperoleh lebih optimal. “Gratis ya, kira-kira omset bisa sampai sekitar 500 ribu lebih per hari,” tambahnya.
Tak hanya kuliner, penyedia jasa sewa alat olahraga pun turut kebanjiran pelanggan. Mulai dari penyewaan raket bulutangkis hingga skipping, ramai diserbu pengunjung. “Iya, disewakan untuk bulutangkis Rp10 ribu, skipping Rp5 ribu. Kami buka hanya di weekend saja. Omset lumayan, bisa mencapai ratusan ribu lebih per hari,” ujar Denish (46) penyewa alat olahraga.
BACA JUGA: Masa Gara-gara PM China CFD Ditiadakan, Padahal Jakarta Butuh Udara Bersih Minimal Seminggu Sekali
Dengan demikian, kehadiran masyarakat dan pelaku UMKM di kawasan KP3B setiap akhir pekan menunjukkan bahwa ruang publik ini berhasil menjadi tempat yang menyehatkan, menyenangkan, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. KP3B bukan sekadar pusat pemerintahan, melainkan juga simbol kehidupan sosial warga Banten yang aktif, sehat, dan produktif.






