Defisit APBN Awal 2026 Tembus Rp54,6 Triliun, Ini Alasannya

Selain itu, keseimbangan primer, yang mencerminkan selisih antara pendapatan negara dan belanja negara di luar pembayaran bunga utang—juga mengalami defisit Rp4,2 triliun atau sekitar 4,7 persen terhadap APBN. Angka ini menunjukkan tekanan fiskal pada awal tahun, meskipun masih dalam batas yang direncanakan pemerintah.

Di sisi penerimaan, Purbaya menekankan adanya tren positif. Peningkatan pendapatan negara didorong oleh pertumbuhan penerimaan perpajakan yang signifikan. Hingga Januari 2026, penerimaan pajak tumbuh 30 persen menjadi Rp116,2 triliun.

Tak hanya itu, penerimaan kepabeanan dan cukai juga mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan 14 persen menjadi Rp22,6 triliun pada periode yang sama.

BACA JUGA: Dinilai Tak Efektif, Program Mudik Motor Gratis Kemenhub Diminta Dihentikan

Dengan kombinasi belanja yang dipercepat dan penerimaan yang mulai menguat, pemerintah menilai defisit awal tahun merupakan bagian dari strategi pengelolaan fiskal untuk menjaga momentum ekonomi. Pemerintah memastikan ruang fiskal tetap terjaga dan pelaksanaan APBN 2026 berjalan sesuai desain yang telah ditetapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *