Insinerator hingga Gasifikasi, Ini Ragam Teknologi di Balik Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

RUANGBICARA.co.id – Pemerintah Indonesia tampaknya makin serius mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber energi bersih melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Buktinya, sebanyak 33 PLTSa dimasukan dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ditargetkan terealisasi dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pembangunan puluhan PLTSa ini menjadi langkah konkret menjawab persoalan sampah sekaligus kebutuhan energi nasional.

“Akan membangun 33 pembangkit listrik tenaga sampah. Ini diharapkan dalam 2–3 tahun ke depan bisa direalisasikan,” ujar Airlangga dalam diskusi CEO Insight rangkaian Kompas100 CEO Forum, dikutip Selasa (10/2/2026).

BACA JUGA: PLTS Atap SUN Energy Dukung Pemenuhan Kebutuhan Obat

Salah satu proyek yang digadang-gadang menjadi percontohan adalah PLTSa Merah Putih. Proyek ini ditargetkan mampu mengolah hingga 69,9 juta ton sampah per tahun, dengan kapasitas listrik sekitar 20 megawatt (MW) per kota. Namun, hingga kini pemanfaatan sampah menjadi energi listrik, khususnya di Jakarta, masih belum optimal.

Di balik ambisi besar tersebut, masih banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana PLTSa bekerja serta teknologi apa saja yang digunakan untuk mengubah sampah menjadi listrik.

Lantas, apa saja teknologinya?

Ragam Teknologi

Dilansir dari berbagai sumber, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) secara umumnya merupakan pembangkit listrik termal yang memanfaatkan panas hasil pengolahan sampah atau gas metana untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi yang menggerakkan turbin dan generator. Daya listrik PLTSa pun bervariasi, mulai dari 500 kilowatt (kW) hingga 10 MW, lebih kecil dibanding PLTU batu bara atau PLTN, tetapi memiliki keunggulan dari sisi pengurangan sampah dan emisi.

Adapun beberapa teknologi utama yang digunakan dalam PLTSa ini, sebagai berikut:

1. Insinerator (Pembakaran Langsung)

Pertama, teknologi insinerator menjadi yang paling banyak dikenal di Indonesia. Sampah dibakar pada suhu tinggi, umumnya 600–800 derajat Celsius di ruang bakar pertama dan 800–1.000 derajat Celsius di ruang bakar kedua. Panas dari pembakaran digunakan untuk memanaskan boiler, menghasilkan uap bertekanan tinggi yang memutar turbin.

Dalam sistem ini, komponen seperti superheater dan air preheater berperan penting untuk meningkatkan efisiensi termal, mengeringkan sampah basah, serta memastikan uap yang masuk ke turbin benar-benar kering. Gas buang juga disaring melalui sistem pengendalian emisi agar memenuhi baku mutu lingkungan.

Contoh penerapan teknologi ini antara lain PLTSa Benowo Surabaya, yang diklaim beroperasi konsisten dan menjaga kualitas udara, serta proyek percontohan PLTSa Bantar Gebang Jakarta.

2. Insinerator Rotary Kiln

Kedua, berbeda dari insinerator konvensional, teknologi rotary kiln menggunakan tungku berbentuk silinder berputar. Sampah dibakar secara merata pada suhu sangat tinggi, mencapai 1.000–1.200 derajat Celsius. Keunggulannya adalah mampu menangani berbagai jenis limbah, baik padat, cair, maupun gas, serta mengurangi volume sampah hingga 90 persen.

Namun, teknologi ini membutuhkan investasi besar dan menghasilkan abu terbang (fly ash) yang tergolong limbah B3 sehingga memerlukan penanganan khusus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *