RUANGBICARA.co.id – Nama Keenan Nasution kembali menjadi sorotan publik setelah polemik gugatan hak cipta terhadap Vidi Aldiano mencuat ke permukaan. Perkara hukum tersebut bahkan memasuki babak baru setelah sempat berlanjut hingga tingkat kasasi.
Kasus ini bermula dari dugaan pelanggaran hak cipta lagu legendaris Nuansa Bening yang diciptakan oleh Keenan bersama Rudi Pekerti. Gugatan tersebut telah didaftarkan sejak 16 Mei 2025 di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Dalam perkembangannya, suami Sheila Dara Aisha itu dinyatakan memenangkan gugatan. Namun, polemik kembali mencuat setelah Keenan memutuskan melanjutkan upaya hukum ke tingkat kasasi, meski Vidi telah berpulang pada 7 Maret 2026.
Melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, Keenan akhirnya menegaskan bahwa proses hukum tersebut resmi dihentikan.
“Atas nama klien kami Pak Keenan Nasution dan Rudi Pekerti, kami akan mencabut proses kasasi yang sedang berjalan di Mahkamah Agung saat ini,” ujar Minola, Jumat (20/3/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa pencabutan kasasi dimungkinkan secara hukum selama belum ada putusan dari Mahkamah Agung.
“Tidak otomatis berhenti, tapi ketika pemohon kasasi atau kuasa hukumnya ingin mencabut proses kasasi itu, maka proses kasasi dapat dibatalkan sepanjang belum ada keputusan,” jelasnya.
Minola turut meluruskan anggapan publik bahwa kliennya tetap melanjutkan perkara setelah wafatnya Vidi.
“Kasasinya ini sudah teregister sebelum almarhum berpulang. Jadi kalau dikatakan tetap meneruskan, meneruskan apa? Orang sudah berjalan,” tegasnya.
Rekam Jejak
Di balik polemik hukum yang menyita perhatian, perjalanan karier Keenan Nasution di industri musik Indonesia ternyata sangat panjang dan berpengaruh.
Musisi yang memiliki nama lengkap Radakrisnan Nasution ini lahir pada 5 Juni 1952. Namanya mulai dikenal sejak mendirikan grup Sabda Nada pada 1966, yang kemudian bertransformasi menjadi Gipsy pada 1969. Bersama Gipsy, Keenan bahkan sempat berkarier hingga ke Manhattan, Amerika Serikat, sebelum kembali ke Indonesia.
Sekembalinya ke Tanah Air, ia terlibat dalam kolaborasi monumental bersama Guruh Soekarnoputra lewat album legendaris Guruh Gipsy, sebuah karya yang hingga kini dianggap sebagai tonggak penting musik progresif Indonesia.
Tak hanya itu, Keenan juga pernah bergabung dengan band rock papan atas God Bless, sebelum akhirnya membentuk Badai Band bersama sejumlah musisi besar seperti Chrisye, Fariz RM, dan Yockie Suryoprayogo.
Meski Badai Band tidak sempat merilis album resmi, jejak musiknya tetap hidup melalui karya-karya para anggotanya.
Keenan juga dikenal melalui berbagai kolaborasi lintas genre, termasuk dengan Benyamin S dalam grup Al Haaj yang menghasilkan album Biang Kerok pada 1992.
Selain aktif dalam grup, Keenan turut berkontribusi di balik layar dengan membantu penggarapan album sejumlah musisi ternama. Ia juga memiliki karier solo yang kuat dengan total lebih dari 10 album.
Ciri khas musiknya dikenal kental dengan nuansa rock progresif, dipadukan dengan lirik yang artistik dan penuh makna.












