Pesantren di Era Modern
Dalam pandangannya, kekuatan santri justru terletak pada kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Alih-alih turun ke jalan, pesantren lebih memilih berinovasi dengan tetap menjaga nilai-nilai lama yang baik sambil menerima hal baru yang lebih bermanfaat.
“Alih-alih melakukan demonstrasi, pesantren memilih melakukan adaptasi. Seperti kaidah yang diajarkan di pesantren: memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik,” ujar Adam.
Kini, pesantren telah berevolusi menjadi pusat pendidikan modern yang menggabungkan nilai agama, ilmu pengetahuan, dan keterampilan.
“Jika dulu pesantren hanya fokus pada kajian kitab kuning, kini banyak pesantren juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum dan lifeskill,” tambahnya.
Selain itu, Adam juga menyebut santri bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga penggerak perubahan atau game changer. Sejarah mencatat, semangat santri pada 22 Oktober dan 10 November menjadi energi besar yang menggerakkan perjuangan bangsa.
“Santri sering kali menjadi game changer. Dalam peristiwa 22 Oktober dan 10 November, santri membawa angin perubahan yang membantu bangsa ini membasmi penjajah secara kaffah,” tegasnya.
Menurutnya, hal ini membuktikan bahwa santri kini bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga aktor penting dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Meski demikian, Adam menyesalkan masih adanya media massa yang menampilkan santri secara tidak pantas. Ia bahkan menyinggung salah satu tayangan televisi nasional yang dianggap melakukan framing negatif terhadap santri.
BACA JUGA: Resmi Dilantik, LBH Ansor Banten Tegaskan Komitmen Bela Rakyat Kecil
“Jika dulu santri ‘dihilangkan’ dari sejarah, kini tantangannya berbeda. Santri justru diframing keji oleh media sekecil Trans7. Meski begitu, protes tetap dilakukan dengan cara santun, sesuai identitas khas santri yang menjunjung adab,” pungkas pria asal Pandeglang itu.












