RUANGBICARA.co.id – Di balik kokohnya lini tengah Genoa, tersimpan perjalanan hidup yang melintasi dua budaya berbeda: dari tanah vulkanik Islandia hingga jejak darah Indonesia. Sosok itu adalah Mikael Egill Ellertsson, gelandang berusia 23 tahun yang kini membela Genoa dan tim nasional Islandia.
Sejak awal kariernya, Ellertsson tidak hanya dikenal karena teknik dan etos kerja yang tinggi. Warisan keturunan Indonesianya turut memberi warna pada kisah hidupnya. Dalam wawancara eksklusif bersama FIFA, ia membuka cerita mengenai keluarga kecilnya.
“Kami adalah keluarga beranggotakan empat orang: ibu saya, Kristin; ayah saya, Ellert; saudara laki-laki saya, Markus; dan saya,” ujarnya seperti dikutip FIFA, Jumat (14/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa darah Indonesia berasal dari sang ibu yang diadopsi oleh keluarga Islandia saat masih bayi. Meski belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia, identitas tersebut tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya.
“Ibu saya salah satu dari beberapa anak Indonesia yang diadopsi ke Islandia. Kami tidak tahu banyak tentang asal-usul kami, tetapi keluarga selalu terbuka membicarakannya,” tuturnya.
Karier sepak bola Ellertsson dimulai ketika ia baru berusia lima tahun. Menariknya, ia juga menekuni olahraga bola tangan hingga umur 15 tahun. Pada dua cabang olahraga tersebut, Mikael kerap bermain di atas kelompok usianya—bukti nyata bakat besar dan mental kompetitif yang ia miliki sejak kecil.
“Dalam kedua olahraga itu, saya sering dipindahkan ke kelompok usia yang lebih tua,” kenangnya.
Program pembinaan tim nasional muda yang digagas Federasi Sepak Bola Islandia (KSI) menjadi salah satu pemicu ambisinya untuk terus berkembang.
Dukungan keluarga turut memainkan peran besar. Orang tuanya selalu mendorong ia dan adiknya mengikuti latihan tambahan, mulai dari sprint hingga penguatan mental.
Langkah Pertama
Pada usia 15 tahun, Mikael mulai berlatih bersama tim senior Fram FC di Reykjavik. Dari sinilah jalur profesionalnya terbuka. Ia menempuh trial ke Derby County, Norwich City, dan Benfica, meski tak membuahkan kontrak.
Namun sebuah pertemuan setelah trial justru mengubah nasibnya. Presiden Fram FC datang membawa tawaran dari klub Italia, SPAL, yang saat itu bermain di Serie A. Tanpa pikir panjang, Mikael pindah ke Ferrara pada usia 16 tahun.
Ia menanjak cepat di struktur akademi SPAL, naik dari U-17 hingga Primavera. Setelah hijrah ke Spezia dan sempat kembali ke SPAL sebagai pemain pinjaman, Mikael mencicipi debut senior di Serie B sebelum akhirnya mencapai puncak: debut Serie A di usia 19 tahun, meski sempat terhambat cedera patah tulang kaki.
Momentum besar datang pada Januari 2023 saat Mikael bergabung dengan Venezia. Pada saat itu klub sedang berjuang di Serie B, namun kehadiran Mikael membawa energi baru. Ia membantu tim bangkit hingga mencapai play-off, sebelum akhirnya promosi ke Serie A di musim berikutnya.
“Keputusan itu sangat besar. Pindah dari Serie A ke klub yang tengah kesulitan di Serie B bukan hal mudah, tetapi saya membutuhkan menit bermain,” ujarnya.
Performa konsisten membuat Genoa mengamankan jasanya pada 31 Januari 2025. Meski begitu, ia sempat dipinjamkan kembali ke Venezia sebelum kembali memperkuat klub barunya dan mencatat gol perdananya di Serie A musim 2025–2026.
Selain cerita kariernya, ada satu hal menarik yang memperkuat hubungannya dengan Indonesia: pertemanannya dengan Jay Idzes, bek Venezia berdarah Indonesia yang kini memperkuat Timnas Indonesia.
“Jay adalah pribadi yang hebat, dan kami langsung menjadi sahabat,” kata Mikael.
Mereka bahkan menemukan kesamaan unik — ibu mereka memiliki nama yang sama.












