Tanggung Jawab Kesehatan Mental
Dengan demikian, tragedi mahasiswa UIN Suska Riau yang terjadi ini menjadi refleksi penting bahwa kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi juga ruang sosial yang sarat dinamika emosional.
Beberapa langkah preventif yang perlu diperkuat di lingkungan perguruan tinggi antara lain:
1. Literasi Kesehatan Mental
Mahasiswa perlu dibekali pemahaman tentang cara mengelola stres, menerima penolakan, dan menyelesaikan konflik secara sehat.
2. Layanan Konseling yang Mudah Diakses
Kampus perlu menyediakan layanan psikologis yang rahasia, profesional, dan bebas stigma.
3. Budaya Peduli dan Deteksi Dini
Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan perlu peka terhadap tanda-tanda stres berat, obsesi berlebihan, atau perilaku agresif.
4. Menghapus Stigma Bantuan Psikologis
Mencari bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan langkah berani untuk menjaga kesehatan mental.
Pelajaran dari Tragedi
Walhasil, kasus di UIN Suska Riau ini menjadi pengingat bahwa konflik emosional yang tidak terkelola dapat berkembang menjadi kekerasan nyata. Emotional dysregulation bukan sekadar istilah psikologi, tetapi kondisi yang dampaknya bisa sangat serius jika diabaikan.
Mahasiswa, orang tua, dan institusi pendidikan perlu bersama-sama menciptakan lingkungan kampus yang aman secara fisik dan sehat secara emosional.
BACA JUGA:Â Hindari Perceraian, Jika Tak Ingin Anak Alami Dampak Serius Psikologis Ini
Karena pada akhirnya, keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kemampuan mengelola emosi dengan matang dan bertanggung jawab.












