“Saya lihat saudara-saudara, semua kota, kecamatan, hampir semua desa kita sekarang, maaf ya, terlalu banyak genteng dari seng. Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” kata Presiden Prabowo Subianto di Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.
DARI pernyataan itulah, wacana ‘Gentengisasi’ mulai bergulir sampai-sampai Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan anggaran yang bersumber dari APBN meski nilainya dipastikan tidak sampai 1 Triliun. Ini berarti, wacana gentengisasi semakin serius. Sejumlah kepala daerah mulai bersiap mengganti atap seng di gedung-gedung pemerintahan dengan genteng tanah liat. Apalagi, katanya, program ini dinilai berpotensi menggerakkan industri genteng nasional, termasuk pengrajin dan pelaku UMKM.
Lalu, bagaimana respons pelaku industri?
Kami Ruang Bicara berkesempatan mengunjungi salah satu produsen genteng keramik terbesar di Indonesia, yakni PT Keramindo Megah Pertiwi (KMP), yang merupakan bagian dari Lyman Group dan berlokasi di Balaraja, Tangerang, Banten. Pabrik yang beroperasi sejak 1997 tersebut memproduksi genteng keramik dengan merek KANMURI.
BACA JUGA: Industri Genteng Minta Kepastian Regulasi untuk Bahan Baku

KANMURI diketahui memproduksi genteng berbahan dasar tanah liat murni dalam tiga tipe, yakni Full Flat, Espanica, dan Milenio. Seluruh tipe tersebut memiliki kapasitas mesin terpasang yang sama, meskipun tipe flat memerlukan pengawasan lebih ketat agar tingkat kerataannya tetap terjaga.
Menurut Elisa Sinaga Manajemen KANMURI, kapasitas produksi perusahaan tergolong terbesar di Indonesia untuk kategori genteng keramik. “Secara kapasitas, kami yang paling lengkap dan terbesar di Indonesia untuk jenis pabrik genteng keramik. Total kapasitas sekitar 3.850.000 pcs per bulan, atau hampir 43 juta pcs per tahun,” ujar Elisa yang bertanggungjawab di bagian pabrik yang dikelola PT Keramindo Megah Pertiwi kepada Ruang Bicara, Rabu (11/2/2026).
Salah satu keunggulan KANMURI, menurut Elisa, adalah kelengkapan aksesori. Perusahaan memiliki hampir 22 jenis item aksesori, mulai dari lapping tile, double tile, poly (talang air), hingga ornamen dekoratif seperti ayam dan motif Bali. Lapping Tile, misalnya, berfungsi menghindari kesalahan pemasangan nok. Kesalahan umum area nok adalah pemasangan karpus yang terlalu tinggi, menyebabkan karpus rentan berpori, sehingga menyerap air dan bocor
Dari sisi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), produk KANMURI mencapai sekitar 80,89 persen. Bahan baku utama tanah liat berasal dari dalam negeri, begitu pula energi pembakaran dan tenaga kerja. Hanya sebagian bahan glasur yang masih diimpor.
Saat ditanya, soal program gentengisasi yang digaungkan Presiden Prabowo KANMURI mengaku antusias dan menyambut baik program tersebut.
“Soal wacana gentengisasi, kami menyambut baik. Karena atap seng secara visual dan secara teknis punya kekurangan: korosi, berisik saat hujan, panas. Beton juga punya kekurangan. Genteng beton itu semen. Semen itu tidak sehat, apalagi di atap kena panas dan air,” tukas Elisa, pria yang pernah menjabat dua periode sebagai Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) pada 2012–2015 dan 2015–2018.
Menyoal Gentengisasi
Meski menyambut baik program gentengisasi, industri menghadapi sejumlah tantangan serius, terutama bahan baku. “Dari sisi bahan baku juga makin sulit. Regulasi tambang harus diatur, bukan dilarang, tetap menjaga lingkungan. Masalah sekarang terbesar bahan baku dan biaya produksi. Energi nomor satu, bahan baku nomor dua, dan tenaga kerja nomor tiga. Kalau harga dinaikkan, pasar tidak sanggup. Itu sebabnya dari 1996 sampai sekarang tidak ada pabrik genteng yang bertambah,” tutur Elisa.
Karena itu, ia meminta pemerintah hadir untuk mendukung industri genteng. “Kami menyambut baik program ini. Secara filosofi bisnis, kalau market ada pasti bertumbuh. Tapi bantu menjaga ketersediaan bahan baku dan harga energi. Jaga regulasi minimal 10 tahun,” ungkapnya.
Elisa juga menyoroti kesiapan bahan baku jika permintaan meningkat. Karena selama ini, bahan baku diambil secara sporadis. “Kami membutuhkan kepastian arahan dari pemerintah, terkait pemetaan tambang Tanah dan kepastian hukum agar ketersediaan tetap terjaga dengan memperhatikan lingkungan,” ujar dia.
Apalagi, kata Elisa, jika permintaan pasar tumbuh lewat program ini. Yang dikhawatirkan bagaimana nanti industri genteng memenuhi kebutuhan tersebut. Karena produksi nasional bisa habis.
“Bicara gentengisasi, kalau benar permintaan market tumbuh, 30 persen saja dipakai, bisa habis produksi nasional. Sebagai contoh kapasitas kami 43 juta setahun, industri lain mungkin di 20 juta per tahun, sementara kita hitung kebutuhan kira-kira bisa miliaran genteng per tahun dengan program tersebut,” ujarnya.
Lebih lanjut, Elisa menjelaskan, dalam hampir 30 tahun terakhir, tidak ada pabrik genteng keramik besar baru yang berdiri di Indonesia. Apalagi, investasi yang dibutuhkan sangat besar, dengan teknologi yang kompleks dan proses produksi panjang. Ia mengatakan, bahwa satu keping genteng saja membutuhkan waktu sekitar 70 jam proses pengeringan, ditambah 17 jam pembakaran pada suhu 1.050–1.100 derajat Celsius agar menjadi keramik sempurna. Setiap tahap harus diperiksa secara ketat, karena kesalahan kecil dapat menyebabkan produk rusak dan terbuang.













