Meski Banyak Penonton, Film Agak Laen: Menyala Pantiku Dinilai Masih Banyak Kekurangan

RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Film garapan komika Muhadly Acho Agak Laen: Menyala Pantiku! baru-baru ini menghebohkan jagat perfilman nasional. Pasalnya, film tersebut berhasil menyalip Jumbo yang sebelumnya memegang rekor jumlah penonton terbanyak di Indonesia.

Film yang masih ditayangkan di bioskop ini tercatat telah ditonton sebanyak 10.500.000 penonton dalam 40 hari penayangan. Angka tersebut melampaui jumlah penonton Jumbo yang mencapai 10.233.241 orang, sekaligus menjadikan Agak Laen: Menyala Pantiku! sebagai film terlaris sepanjang masa di Indonesia.

BACA JUGA: Jangan Sampai Ketinggalan! 5 Film Paling Dinanti yang Bakal Mengguncang Bioskop Januari 2026

Bahkan, capaian tersebut membuat film ini berpotensi menyalip rekor penonton Avengers: Endgame yang berada di angka 10.976.338 penonton. Meski demikian, peluang tersebut dinilai semakin menantang karena jumlah layar penayangan Agak Laen: Menyala Pantiku! akan berkurang seiring masuknya empat film baru, yakni Malam 3 Yasinan, Musuh Dalam Selimut, Uang Passolo, dan Suka Duka Tawa.

Antusiasme penonton turut disampaikan pihak rumah produksi melalui media sosial. “Pasukaaannn! Udah 10.500.000++ penonton pilem kita ini berkat kelen semua!!,” tulis akun Instagram imajinari.id, dikutip Rabu (7/1/2025).

Kekurangan Film

Meski mencetak prestasi luar biasa dari sisi jumlah penonton, film Agak Laen: Menyala Pantiku! dinilai masih memiliki sejumlah kekurangan. Hal tersebut disampaikan konten kreator Tegar Irsyad melalui ulasan jujurnya di kanal YouTube pribadi @TegaeIrsyad.

Menurut Tegar, Agak Laen 2: Menyala Pantiku merupakan film yang sangat dinantikan, mengingat film pertamanya sukses meraih sekitar 8 hingga 9 juta penonton. Ia menjelaskan bahwa film kedua ini tidak memiliki kesinambungan cerita dengan film pertama.

“Agak laen menyalak pantiku adalah film dengan IP yang formulanya tuh bisa gua bilang mirip banget sama World Cup DKI dimana secara cerita ga ada sambungannya film pertama dan film kedua,” ujar Tegar.

Ia menilai penonton tidak perlu menyaksikan film pertama untuk memahami film kedua karena ceritanya berdiri sendiri. Meski tetap menampilkan empat pemeran utama yang sama, premis cerita kali ini berbeda. Jika pada film pertama keempat tokoh digambarkan sebagai warga yang membuka rumah hantu, pada film kedua mereka berperan sebagai empat polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan anak wali kota.

“Di film kedua ini premisnya kurang lebih formulanya mirip ada 4 kawanan yang memang sedang berjuang tapi bedanya 4 kawanan yang berjuang ini di film kedua ini yaitu adalah 4 kawanan polisi,” jelasnya.

Konflik film dikembangkan melalui kegagalan keempat polisi tersebut dalam menangkap tersangka hingga terancam pemecatan. Mereka kemudian diberi satu kesempatan terakhir untuk mengungkap kasus yang diduga berkaitan dengan seorang pelaku yang bersembunyi di sebuah panti jompo.

Dari sisi komedi, Tegar mengakui film ini masih sangat kuat dan mampu mengundang tawa penonton. “Lucunya dari film ini tentunya masih lucu banget di tengah film gua ngakak pecah disitu ya karena lucu banget dan secara komedi, komedinya patah banget,” katanya.

Sisi Emosional Film

Ia bahkan mengaku terkejut melihat suasana bioskop yang tetap ramai meski ia menonton di siang hari. Selain komedi, Tegar juga menyoroti sisi emosional film, khususnya penggambaran kehidupan di panti jompo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *