Respon Rusia
Ancaman ini mendapatkan respons keras dari Rusia. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, mengutuk tindakan AS yang mengancam akan menyerang Iran.
Ryabkov menilai ancaman tersebut sebagai tindakan yang tidak pantas dan sebagai upaya bagi AS untuk memaksakan kehendaknya terhadap Iran.
“Kami menganggap metode tersebut tidak pantas, kami mengutuknya,” ungkap Ryabkov ke Jurnal Rusia.
Rusia, yang selama ini mendukung Iran dalam program nuklirnya, menegaskan bahwa serangan terhadap Iran dapat berujung pada bencana besar. Kremlin juga menawarkan diri sebagai penengah antara AS dan Iran, guna meredakan ketegangan yang semakin meningkat.
Selain itu, Rusia juga menegaskan komitmennya terhadap kemitraan strategis dengan Iran, yang semakin diperkuat melalui perjanjian kemitraan yang ditandatangani pada Januari lalu. Mengingat ketegangan yang semakin meningkat, Rusia menilai penting untuk mendorong dialog antara kedua negara dan menghindari eskalasi konflik yang lebih besar.
Di sisi lain, Iran tetap bersikeras bahwa program nuklirnya hanya bertujuan untuk kepentingan damai, dan membantah tuduhan bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir untuk perang.
Iran menegaskan bahwa mereka berkomitmen untuk mematuhi perjanjian internasional dan siap untuk bekerja sama dengan pihak-pihak yang terlibat dalam kesepakatan nuklir tersebut.
Dengan ketegangan yang semakin meningkat, dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari AS, Iran, dan Rusia.
BACA JUGA: Mulai Kampanye, Kamala Harris Banyak Kritik Donald Trump Hingga Sebut Penipu
Apakah kesepakatan nuklir yang pernah dicapai akan tetap dipertahankan, ataukah ketegangan ini akan berkembang menjadi konflik terbuka? Hanya waktu yang akan menjawab, sementara Rusia siap memainkan peran kunci sebagai mediator dalam menyelesaikan permasalahan ini.












