WACANA ‘gentengisasi’ mulai bergulir serius. Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan anggaran yang bersumber dari APBN meski nilainya dipastikan tidak sampai Rp1 triliun. Ini menjadi sinyal bahwa program tersebut tidak sekadar wacana.
Di sisi lain, program ini disebut-sebut sebagai salah satu langkah strategis Presiden Prabowo dalam mendorong penggunaan material dalam negeri. Namun, di balik itu semua, ada proses panjang, investasi besar, serta tantangan produksi bagi industri sendiri yang tidak semudah membalikan telapak tangan.
Untuk melihat langsung kesiapan industri, kami Ruang Bicara berkesempatan mengunjungi salah satu produsen genteng keramik terbesar di Indonesia, yakni PT Keramindo Megah Pertiwi (KMP), yang merupakan bagian dari Lyman Group dan berlokasi di Balaraja, Tangerang, Banten. Pabrik ini beroperasi sejak 1997 tersebut memproduksi genteng keramik dengan merek KANMURI dan menjadi salah satu dari sedikit industri genteng keramik skala besar yang masih bertahan dan berproduksi secara massal di Indonesia.
BACA JUGA: Industri Genteng Minta Kepastian Regulasi untuk Bahan Baku
Di sini, kami berkesempatan mewawancarai sosok teknokrat lulusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dikenal telah lama malang melintang di industri genteng dan keramik. Sosok itu adalah Elisa Sinaga, perwakilan manajemen KANMURI sekaligus Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) periode 2012–2015 dan 2015–2018.
Elisa secara terbuka memaparkan realitas industri genteng — mulai dari proses produksi yang memakan waktu puluhan jam, kompleksitas pengendalian kualitas, tingginya biaya energi dan logistik, hingga pandangannya mengenai potensi gentengisasi sebagai peluang sekaligus tantangan bagi industri nasional.
Berikut petikan wawancara lengkapnya:
Presiden Prabowo menyampaikan wacana gentengisasi. Dari sudut pandang industri, bagaimana Bapak melihat gagasan ini? Apakah ini sekadar wacana politis, atau benar-benar peluang strategis bagi industri genteng nasional?
Kami menyambut baik wacana gentengisasi ini. Secara teknis, atap seng memang punya banyak kekurangan: panas, berisik saat hujan, dan rentan korosi. Beton juga tidak ideal karena berbasis semen. Semen itu menyerap air dan kurang sehat jika terus terpapar panas dan air di atap.
Genteng tanah liat—terutama genteng keramik—lebih stabil, lebih sehat, dan secara estetika lebih baik. Jadi kalau ini menjadi kebijakan serius, tentu kami antusias. Secara filosofi bisnis, kalau pasar ada, industri pasti bertumbuh.
Jika program ini berjalan dan pemerintah benar-benar mengganti atap seng di berbagai fasilitas publik, apakah industri dalam negeri, khususnya KANMURI, siap memenuhi lonjakan permintaan dalam skala besar?
Secara kapasitas, kami termasuk yang terbesar dan paling lengkap di Indonesia untuk kategori genteng keramik. Kapasitas kami sekitar 3.850.000 keping per bulan, atau hampir 43 juta keping per tahun. Ditambah dua produsen besar lain, total nasional mungkin sekitar 60 jutaan keping per tahun.
Tetapi kalau bicara kebutuhan nasional dalam program gentengisasi, kebutuhannya bisa miliaran keping. Kalau 30 persen saja terealisasi, produksi nasional saat ini bisa langsung habis terserap. Jadi secara kapasitas eksisting, jelas belum cukup jika programnya benar-benar masif.
Tantangan Bahan Baku
Dengan potensi permintaan sebesar itu, apa tantangan paling mendesak yang dihadapi industri saat ini? Apakah persoalannya lebih pada kapasitas mesin, bahan baku, atau biaya produksi?












