Strategi Aman
Jika dokter memberikan izin, ibu hamil perlu menerapkan strategi makan yang tepat. Misalnya, seperti nasi merah, kentang, oat, dan sereal gandum agar energi bertahan lebih lama. Protein hewani dan nabati seperti ikan, daging, telur, tahu, dan tempe penting untuk pertumbuhan janin. Cukupi buah dan sayur untuk memenuhi kebutuhan mineral dan mencegah sembelit. Dan ingat, untuk hindari makanan manis dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat naik dan turun, sehingga membuat tubuh lebih mudah lemas.
Selain itu, Ibu hamil disarankan mengonsumsi minimal 2,5 liter cairan per hari dengan pembagian:
-
2 gelas saat bangun sahur
-
2 gelas setelah sahur
-
2 gelas saat berbuka
-
2 gelas sebelum tidur
Cara ini membantu mencegah dehidrasi selama berpuasa.
Meski begitu, Ibu hamil juga diperbolehkan mengonsumsi kafein, asal takaran maksimalnya 200 mg per hari. Perlu diingat, kafein tidak hanya terdapat pada kopi, tetapi juga pada soda dan cokelat. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan jantung berdebar, nyeri lambung, dan sering buang air kecil.
Tanda Harus Membatalkan Puasa
Meski demikian, Ibu hamil harus segera membatalkan puasa jika mengalami:
-
Pusing hebat dan keringat dingin
-
Urine kuning pekat dan berbau menyengat
-
Gerakan janin berkurang
-
Kontraksi berlebihan atau muncul flek kecoklatan
Jika tanda-tanda tersebut muncul, segera minum air hangat dan konsultasikan ke dokter.
Keinginan berpuasa saat hamil tentu sangat mulia. Namun, dr. Fadil menekankan agar ibu hamil tidak memaksakan diri jika kondisi tidak memungkinkan. Dalam ajaran agama, terdapat keringanan bagi ibu hamil yang tidak mampu menjalankan puasa.
BACA JUGA:Â Dokter Paru Ungkap Cara Pakai Whip Pink yang Benar, Jika Salah Ini Bahayanya
Kesimpulannya, puasa saat hamil memang bisa memberikan manfaat, tetapi hanya jika dilakukan dengan pengawasan medis dan perencanaan nutrisi yang matang. Konsultasi dengan dokter kandungan tetap menjadi langkah utama sebelum memutuskan berpuasa selama kehamilan.












