“Kalau rupiah, kita serahkan ke bank sentral, ke ahlinya. Saya percaya mereka bisa menanganinya,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Di sisi lain, pandangan berbeda datang dari pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi yang melihat tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Ia memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya akan cenderung fluktuatif, namun tetap berada dalam tren pelemahan.
Menurut Ibrahim, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.150 per dolar AS, seiring masih kuatnya tekanan dari faktor global dan sentimen pasar keuangan.
BACA JUGA: Inflasi Turun saat Lebaran, Kok Bisa?
Kondisi ini menegaskan bahwa meskipun pemerintah menilai pelemahan rupiah masih dalam skenario yang terkendali, dinamika pasar tetap menyimpan risiko lanjutan yang perlu diwaspadai, terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.







