Sandiaga Uno Ingatkan soal Risiko Investasi Emas di Era Ketidakpastian

RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Ketidakpastian ekonomi global kembali mendorong pergerakan harga emas yang fluktuatif. Sentimen tersebut turut tercermin di pasar domestik, di mana harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menguat pada awal pekan ini.

Setelah sempat tertekan tajam pada akhir pekan lalu, harga emas Antam menunjukkan rebound signifikan pada perdagangan Senin (2/2/2026). Penguatan ini mengindikasikan kembali meningkatnya minat masyarakat terhadap emas di tengah dinamika ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian.

Berdasarkan data resmi dari situs Logam Mulia, harga emas Antam melonjak Rp167.000 dan dipatok di level Rp3.027.000 per gram. Kenaikan tersebut menandai pemulihan harga emas domestik setelah sebelumnya mengalami penurunan cukup dalam.

Lonjakan harga ini turut memicu fenomena pembelian emas secara masif oleh masyarakat. Emas kembali dipersepsikan sebagai instrumen investasi paling aman di tengah tekanan inflasi, ketegangan geopolitik, serta gejolak pasar keuangan global. Namun di balik tren tersebut, terdapat aspek penting yang kerap luput dari perhatian investor.

Pebisnis, Sandiaga Salahuddin Uno, mengingatkan bahwa investasi emas tidak sepenuhnya bebas risiko dan tetap perlu disikapi secara rasional.

Menurut Sandiaga, pergerakan harga emas saat ini merupakan refleksi langsung dari situasi global yang penuh ketidakpastian.

“Harga emas sekarang menunjukkan fluktuasi yang sangat tinggi. Ini adalah produk dari ketidakpastian, dari meningkatnya intensitas geopolitik dan perang dagang di berbagai belahan dunia,” ujar Sandiaga melalui video reels yang diunggah di akun Instagram pribadinya @sandiuno, Senin (2/2/2026).

BACA JUGA: Harga Emas Antam Bangkit Lagi, Melonjak Rp167.000 dalam Sehari

Menurutnya, lonjakan harga emas kerap terjadi karena meningkatnya permintaan, sementara suplai emas relatif terbatas. Kondisi tersebut dipicu oleh kecenderungan masyarakat mencari aset aman (safe haven) di tengah gejolak ekonomi global.

Sandiaga menjelaskan bahwa emas memang memiliki kekuatan sebagai pelindung nilai atau anti-inflasi. Namun, di sisi lain, emas memiliki keterbatasan fundamental sebagai instrumen investasi jangka panjang.

“Emas tidak memberikan imbal hasil. Tidak ada dividen, tidak ada bunga, dan tidak ada bagi hasil,” jelasnya.

Ia menilai, keputusan membeli emas sering kali bermula dari langkah rasional untuk menghadapi inflasi. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, keputusan tersebut dapat berubah menjadi tindakan emosional, di mana masyarakat lebih memilih menyimpan aset secara pasif daripada menggerakkannya secara produktif.

“Ketika orang lebih memilih pasif daripada aktif, ini sinyal yang harus kita tangkap,” kata Sandiaga.

Lebih lanjut, Sandiaga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan tercipta hanya dengan menimbun emas. Menurutnya, ekonomi akan tumbuh jika aset yang dimiliki masyarakat diputar ke sektor usaha yang produktif, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja dan menjaga daya beli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *