RUANGBICARA.co.id – Serial legendaris Para Pencari Tuhan kembali mengaduk emosi dan logika pemirsa di Jilid 19. Memasuki episode ketiga, penonton disuguhkan pada kontradiksi nyata antara kebutuhan ekonomi yang mendesak dengan prinsip iman yang teguh. Episode ini menjadi panggung bagi dilema Asrul, ambisi Udin, dan babak baru kehidupan Pipit yang penuh inspirasi.
Kisah dibuka dengan manuver Udin yang berusaha menarik sahabat karibnya, Asrul, untuk keluar dari jerat kemiskinan dengan cara yang tidak biasa. Udin secara terang-terangan mengajak Asrul bergabung dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) bernama Barbar.
BACA JUGA: ‘McSteamy’ Eric Dane Tutup Usia, Kisah Kesetiaan Sang Istri yang Batalkan Cerai Bikin Haru!
Udin menjanjikan kemudahan dalam mencari uang, kehormatan, hingga kekuasaan. Bagi Udin, “jalan ninja” untuk mendapatkan segalanya cukup dengan modal nyali membentak, melotot, hingga menggebrak meja. Meski Asrul sempat tergiur karena status ekonominya yang sulit sejak perusahaan lamanya tutup, nuraninya tetap bergejolak melihat cara kerja yang jauh dari nilai-nilai kebaikan.
Bang Jack, sang penjaga moral di tengah hiruk-pikuk dunia, tidak tinggal diam. Dengan gayanya yang khas, ia melontarkan kritik pedas terhadap konsep rezeki yang ditawarkan Udin. Bang Jack mengingatkan bahwa dalam beragama saja tidak ada paksaan, apalagi sekadar urusan masuk ormas yang tidak jelas asas manfaatnya.
Argumen paling menohok muncul saat Bang Jack menegaskan bahwa rezeki itu mutlak datangnya dari Allah, bukan dari sebuah organisasi. Ia menekankan bahwa bumi Allah itu luas, dan rezeki Asrul tidak seharusnya dicari dengan cara-cara yang intimidatif. Sentilan ini membuat Asrul kembali berpikir jernih dan memilih untuk tetap bersabar menanti pintu rezeki yang lebih berkah.
Di sisi lain, narasi berpindah pada Pipit yang sedang menghadapi tawaran pekerjaan dari Bang Muluk untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Ada keraguan besar dalam diri Pipit karena ia merasa tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang tersebut.
Namun, nasihat bijak sang Abah menjadi titik balik. Abah mengingatkan bahwa guru adalah profesi yang mulia, di mana ilmu yang diajarkan akan menjadi amal jariah yang terus mengalir bagi diri sendiri maupun orang tua. Tergerak oleh ketulusan dan keinginan untuk menjadi manusia yang bermanfaat, Pipit akhirnya menerima tantangan tersebut dengan penuh keyakinan.
Bukan Para Pencari Tuhan namanya jika tanpa bumbu romansa tipis-tipis yang sarat makna. Episode ini mulai memberikan sinyal kuat adanya rencana perjodohan antara Pipit dan Muluk.
Kedua orang tua mereka, Abah Pipit dan Pak Makbul, tampak memiliki visi yang sama untuk menyatukan anak-anak mereka dalam ikatan pernikahan. Meski Muluk saat ini masih fokus pada kemapanan karier, chemistry di antara keduanya mulai terasa lewat percakapan telepon yang memperlihatkan perhatian satu sama lain yang tulus.












