Akibat pelanggaran tersebut, tujuh pemain naturalisasi dijatuhi larangan bertanding selama 12 bulan di semua kompetisi resmi dan masing-masing didenda 2.000 Franc Swiss. Sementara itu, FAM dikenai sanksi administratif sebesar 350.000 Franc Swiss atau sekitar RM1.8 juta.
Selain itu, FIFA menyerahkan aspek legalitas status para pemain ke FIFA Football Tribunal untuk proses penilaian hukum lebih lanjut.
Fakta Baru
Kasus ini semakin panas setelah akun sepak bola Asia @theaseanball mengungkapkan fakta baru pada 7 Oktober 2025. FIFA ternyata menemukan bahwa FAM mengubah dokumen kelahiran kakek-nenek tujuh pemain naturalisasi, mengganti lokasi asal mereka dengan wilayah di Malaysia.
“FIFA menemukan bahwa tempat kelahiran kakek-nenek para pemain telah dipalsukan. Asal-usul sebenarnya dari Argentina, Spanyol, Brasil, dan Belanda diubah menjadi lokasi palsu di Malaysia,” tulis akun tersebut.
Berikut tujuh pemain yang terlibat dalam kasus manipulasi dokumen versi hasil investigasi FIFA:
- Gabriel Felipe Arrocha – asal Spanyol, dipalsukan menjadi Malacca, Malaysia.
- Facundo Tomas Garces – asal Argentina, dipalsukan menjadi Penang, Malaysia.
- Rodrigo Julian Holgado – asal Argentina, dipalsukan menjadi George Town, Malaysia.
- Imanol Javier Machuca – asal Argentina, dipalsukan menjadi Penang, Malaysia.
- Joao Vitor Brandao Figueiredo – asal Brasil, dipalsukan menjadi Johor, Malaysia.
- Jon Irazabal Iraurgui – asal Spanyol, dipalsukan menjadi Kuching, Sarawak, Malaysia.
- Hector Alejandro Hevel Serrano – asal Belanda, dipalsukan menjadi Selat Malaka, Malaysia.
BACA JUGA: Siap Bersaing di Piala Dunia 2026, Uzbekistan Tunjuk Fabio Cannavaro untuk Pimpin Timnas
Dengan temuan terbaru ini, reputasi Federasi Sepakbola Malaysia semakin tercoreng di mata dunia. Pemalsuan dokumen tidak hanya menodai integritas olahraga, tetapi juga menambah beban hukum bagi FAM. Kasus ini pun berpotensi menimbulkan sanksi tambahan jika FIFA menemukan pelanggaran lebih lanjut.












