-
Menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Athaya.
-
Mengecam tidak adanya permintaan maaf maupun klarifikasi dari EO dan pejabat terkait.
-
Menyoroti praktik pelibatan mahasiswa tanpa kontrak, perlindungan hukum, dan jaminan keselamatan.
-
Mendesak agar tragedi ini dijadikan momentum untuk menghentikan pola lama yang merugikan pelajar.
Pernyataan itu kemudian memicu diskusi luas di kalangan diaspora Indonesia. Banyak pelajar di Belanda hingga negara lain menilai tragedi Athaya sebagai peringatan pahit bahwa mahasiswa tidak boleh diperlakukan hanya sebagai “tenaga gratis” dalam acara kenegaraan.
BACA JUGA: Mahfud MD Bakal Balik Jadi Menko Polkam Gantikan Budi Gunawan?
Kasus ini tidak hanya menyisakan luka mendalam, tetapi juga menjadi alarm keras bagi pemerintah. Jika pola lama terus berlanjut, bukan tidak mungkin tragedi serupa kembali terjadi. Tanpa adanya perlindungan hukum dan jaminan keselamatan yang jelas, mahasiswa bisa kembali menjadi korban dalam praktik yang sebenarnya bisa dicegah.












