ABAH Khaerudin Syukaris, demikian masyarakat sekitar dan para santri biasa menyebutnya. Ia adalah sosok yang memang tak terlalu mentereng namanya dalam jajaran struktural Nahdlatul Ulama (NU), baik dari tingkat ranting hingga pengurus besar. Namun, berdasarkan catatan-catatan dari para saksi perjalanan hidupnya yang diperoleh penulis, pergaulan Abah bisa dikatakan cukup luas dengan tokoh-tokoh NU, mulai dari Subhan ZE hingga para kiai khos NU lainnya di Indonesia. Dari pergaulan itulah, Abah membawa jejak-jejak keilmuan yang mendalam dari para ulama Nusantara.
Berdasarkan catatan sipil dan kependudukan, Abah Syukaris lahir pada 12 April 1934 di Kabupaten Lebak, tepatnya di Kampung Julat, Desa Muaradua, Kecamatan Cikulur, Lebak, Banten. Beliau merupakan anak kedua dari empat bersaudara, pasangan Haji Muhammad Sholeh dan Hajjah Sani. Ayah beliau, Haji Sholeh, merupakan Kepala Desa Muaradua atau Jaro kala itu (sebutan kepala desa di Lebak).
BACA JUGA: Mama KH Khaerudin Syukaris: Jejak Kyai Kampung yang Berguru kepada Ulama Nusantara
Sejak kecil, Abah Syukaris tumbuh di lingkungan yang mencintai ilmu. Hal inilah yang menjadikan “ngaji” sebagai kegiatan kesukaannya, hingga membentuk karakter ulul albab—orang yang haus akan keilmuan.
Awal Pengembaraan Ilmu
Dari sinilah kemudian jejak-jejak keilmuannya bermula. Abah muda mengawali perjalanan ilmunya dengan mengaji kepada Abah Kiai Abdul Hadi (Cihuni, Cikulur, Lebak), seraya sesekali sorogan ke Abah Antok (tetangga kampung, Muhara, Cikulur, Lebak). Setelah dirasa cukup, Abah muda melanjutkan ngaji ke Abuya Abdul Salam di Cangkudu, Baros, Serang, Banten.
Abuya Abdul Salam merupakan murid Abuya Muhammad Shidiq, yang merupakan murid Syeikh Nawawi bin Umar Tanara. Selanjutnya, Abah melanjutkan pengembaraan ke Bojong Menteng, berguru kepada Abuya Yusya’, murid Abuya Syamsuddin Petir. Di Abuya Yusya’ inilah Abah menetap cukup lama, hampir delapan tahun. Tak heran, dalam catatan sanad yang tertulis di kitab-kitabnya, banyak yang diperoleh dari sini hingga tamat.
Kitab-kitab yang dipelajari antara lain Tauhid Tijanud Darory dan Nashoihul Ibad. Sanad Abah Syukaris berasal dari As-Syeikh Yusya’ Bojong Menteng, dari As-Syeikh Samsuddin, dari As-Syeikh Muhammad Nawawi Tanara al-Bantani. Sementara dalam Murod Awamil dan Jurumiyah, sanadnya diperoleh dari As-Syeikh Yusya’ Bojong Menteng, dari As-Syeikh Muhammad Nawawi Mandaya.
Dalam catatan lainnya, Abah juga belajar Kitab al-Tsimaarul Yani’ah, syarah Matn Riyadhu Badi’ah, hingga tamat kepada Mama Yusya’ Bojong Menteng, Serang, rahimahullahu ta’ala, pada 1 Dzulhijah 1372 Hijriyah (22 September 1953 Masehi).
Jejak Keilmuan
Tak berhenti di situ, Abah melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke Plered, Purwakarta, Jawa Barat, berguru kepada Mama Ajeungan Bakri atau Syekh Tubagus Ahmad Bakri Sempur. Meski hanya sebentar, perjalanan ini menjadi bagian penting sanad keilmuannya.
Setelah itu, Abah melanjutkan ke Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, berguru kepada Mbah Ahmad Ru’yat dan Mbah Humaidullah. Di sinilah sanad kitab-kitab penting diperolehnya. Abah mempelajari Kitab Hasyiah As-Shobban (yang di dalamnya terdapat syarah Asmuni/Alfiyah Ibnu Aqil) kepada Mbah Humaidullah bin Irfan. Kitab empat juz tersebut diselesaikan hingga tamat di Kendal.
Selain itu, Abah juga mendapatkan sanad Kitab Ihya Ulumuddin dari Mbah Ahmad Ru’yat bin Abdullah. Di Kaliwungu inilah, nama Abah yang semula Syukaris ditambahkan menjadi Khaerudin Syukaris, nama yang diberikan langsung oleh Mbah Ahmad Ru’yat.
Mama Bakri dan Mbah Ru’yat diketahui juga merupakan guru dari Abuya Dimyati Cidahu, Pandeglang. Keduanya adalah murid Mama Ajeungan Ahmad Bakri Sempur, yang berguru kepada As-Syeikh Muhammad Yasin al-Fadany. Di Kaliwungu pula, Abah memiliki sahabat dekat, Mama Ajeungan Busthomi dari Cisantri, Pandeglang.
Karena kecintaannya pada ilmu, Abah juga pernah mengikuti pasaran (pesantren kilat) kepada Mbah Mashduqi Lasem (pasaran Fathul Mu’in) serta kepada Mbah Ma’shum bin Ahmad, Lasem.
Dalam catatan sanad Kitab Shohih Bukhori dan Muslim, Abah Syukaris memperoleh sanad dari As-Syaikh Ahmad Hasan Asy’ari (Mbah Ahmad Asy’ari Poncol, Salatiga). Dan Mbah Ahmad Asy’ari menerima dari Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari dan Syeikh Muhammad Dimyathi bin Abdullah Termas, yang keduanya bersambung kepada Syeikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmisy.






