Anak Tetap Bisa Sehat Secara Mental Meski Orang Tua Bercerai, Asalkan…

Dampaknya

Dalam perspektif neuropsikologis, stres kronis pada masa perkembangan dapat memengaruhi sistem respons stres anak. Bruce Perry (2006) menjelaskan bahwa paparan konflik dan ketidakamanan yang berulang membuat sistem saraf berada dalam kondisi siaga berkepanjangan.

Akibatnya, individu mungkin tumbuh dengan kecenderungan:

  • Mudah terpicu oleh konflik kecil

  • Merasa terancam dalam situasi yang sebenarnya aman

  • Sulit mengelola kemarahan atau kecemasan

  • Terus-menerus waspada terhadap kemungkinan ditinggalkan

Reaksi ini bukanlah kelemahan pribadi, melainkan bentuk adaptasi terhadap lingkungan masa kecil yang tidak stabil.

Maka dari itu, penting untuk dipahami bahwa perceraian tidak secara otomatis menimbulkan trauma berkepanjangan. Faktor protektif memiliki peran besar dalam menentukan dampaknya.

Anak yang tetap mendapatkan kasih sayang konsisten, komunikasi terbuka, serta stabilitas rutinitas memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara sehat. Dalam kerangka resilience theory, kehadiran satu figur dewasa yang suportif saja sudah dapat menjadi faktor pelindung yang signifikan.

BACA JUGA: Tips Cepat Tidur Ala Teknik Militer AS yang Terbukti Efektif Atasi Insomnia

Artinya, kualitas relasi setelah perceraian jauh lebih menentukan dibanding peristiwanya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *