Ribuan keluarga terpisah dan dilarang bertemu satu sama lain. Warga Berlin Timur hidup di bawah rezim komunis yang ketat, sementara warga Berlin Barat menikmati kebebasan di bawah sistem kapitalis.
Banyak warga Berlin Timur yang berusaha melarikan diri ke Barat. Meskipun berisiko tinggi, sekitar 5.000 orang berhasil menyeberang, sementara lebih dari 140 orang tewas atau tertangkap saat mencoba melintasi tembok.
Kejatuhan Tembok Berlin
Pada akhir 1980-an, perubahan politik besar terjadi di Uni Soviet di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev yang memperkenalkan kebijakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (reformasi). Bersamaan dengan itu, di Jerman Timur, protes besar-besaran pecah dengan tuntutan kebebasan yang semakin kuat.
Pada 9 November 1989, pemerintah Jerman Timur secara tak terduga mengumumkan bahwa warga diizinkan melintasi perbatasan menuju Berlin Barat. Ribuan warga Berlin Timur dan Barat berkumpul di tembok, dan banyak dari mereka mulai menghancurkannya.
Kejadian ini menandai berakhirnya pembagian Jerman dan menjadi simbol runtuhnya komunisme di Eropa.
Reunifikasi Jerman dan Akhir Perang Dingin
Hanya setahun kemudian, tepatnya pada 3 Oktober 1990, Jerman secara resmi bersatu kembali sebagai satu negara. Kejatuhan Tembok Berlin bukan hanya menandakan penyatuan Jerman, tetapi juga menjadi simbol berakhirnya Perang Dingin.
BACA JUGA:Â Perjalanan Panjang Kepausan: Dari Awal Sejarah Hingga Era Modern
Lebih dari itu, peristiwa ini menandai kemenangan demokrasi di Eropa Timur dan membuka babak baru dalam sejarah dunia, di mana kebebasan dan persatuan menjadi nilai yang diutamakan.









