Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang dan Kering, BMKG Minta Masyarakat Waspada

Dampak langsung dari situasi ini adalah meningkatnya risiko Kebakaran Hutan dan Lahan. Indikasi awal sudah terlihat melalui lonjakan jumlah titik panas (hotspot) sejak awal tahun. Hingga awal April 2026, sistem pemantauan BMKG mencatat lebih dari 1.600 titik panas tersebar di berbagai wilayah—angka yang meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa anomali ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya sistem El Nino-Southern Oscillation. Pemanasan di wilayah Nino 3.4 berpotensi berkembang menjadi El Nino, yang berdampak langsung pada penurunan curah hujan di Indonesia.

Sebagai langkah mitigasi, BMKG mengingatkan bahwa periode kritis potensi kebakaran hutan dan lahan akan berlangsung mulai Mei hingga September 2026. Puncak risiko diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September, saat wilayah terdampak kekeringan semakin meluas.

BACA JUGA: Viral Deretan Motor Listrik, BGN Buka Suara: 25 Ribu Unit untuk Operasional Program MBG

Dengan proyeksi tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam pengelolaan sumber daya air serta pencegahan kebakaran sejak dini, guna meminimalkan dampak yang lebih besar di tengah musim kemarau yang diprediksi semakin ekstrem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *