Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan revolusi di Iran dan mendorong masyarakat untuk menggulingkan pemerintahan yang berkuasa. Ia bahkan menyebut momentum ini sebagai peluang langka dalam beberapa generasi untuk melakukan perubahan politik di Teheran.
Sementara itu, serangan rudal antara Iran dan Israel masih terus berlangsung. Kondisi ini memicu pergerakan tajam di berbagai pasar aset berisiko, termasuk saham dan kripto. Investor global cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman ketika ketegangan geopolitik meningkat.
Sejumlah analis menilai kekosongan kepemimpinan di Iran berpotensi membuka ruang negosiasi dan mempercepat terciptanya gencatan senjata. Jika hal itu terjadi, aliran dana bisa kembali masuk ke aset berisiko seperti kripto dan saham. Namun, skenario sebaliknya juga mengemuka, yakni potensi konflik internal atau bahkan perang saudara yang justru memperburuk sentimen pasar.
BACA JUGA: Mengenal Selat Hormuz, Jalur Nadi Energi Dunia yang Ditutup Usai Kematian Khamenei
Risiko lain membayangi dari sisi energi. Iran berada di pusat kawasan yang menyumbang sekitar sepertiga ekspor minyak mentah dunia. Jika ketidakstabilan semakin meluas, harga minyak berpotensi melonjak tajam. Lonjakan tersebut dapat mendorong inflasi global dan memperketat kondisi keuangan, yang pada akhirnya memberi tekanan tambahan terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.












