Dari sisi ekonomi, pengembangan Dry Port KITB memiliki potensi besar. Fasilitas ini diproyeksikan mampu menangani hingga 300.000 TEUs dari total 4 juta TEUs yang melintas di koridor logistik Jawa Tengah. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan investasi awal sekitar Rp2,4 triliun yang mencakup pembangunan container yard, jalur rel, serta fasilitas penunjang lainnya.
Kinerja sektor logistik sendiri menunjukkan tren positif. Pada 2025, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,78 persen pada kuartal IV dan berkontribusi lebih dari 6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pertumbuhan ini menjadi indikator bahwa efisiensi logistik memiliki dampak langsung terhadap akselerasi ekonomi nasional.
Tak hanya itu, kawasan KEK Batang juga ditargetkan mampu menarik investasi hingga Rp60 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Dry port akan menjadi tulang punggung layanan logistik terintegrasi bagi puluhan industri baru yang akan beroperasi di kawasan tersebut, sekaligus memperkuat ekosistem industri dan ekonomi kreatif.
Dampak sosialnya pun signifikan. Sejak beroperasi, KITB telah menyerap sekitar 5.500 tenaga kerja. Dengan hadirnya dry port, angka ini diproyeksikan melonjak hingga 39.000 tenaga kerja pada 2029. Peningkatan ini diharapkan mampu menekan angka pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara inklusif.
Meski demikian, tantangan utama tetap pada kecepatan eksekusi. Pemerintah menekankan pentingnya realisasi konkret dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani. Tanpa implementasi yang disiplin dan koordinasi yang solid, proyek strategis seperti dry port berisiko tertahan di tahap perencanaan.
BACA JUGA:Â Alasan KDM Jadikan Susi Pudjiastuti Komisaris Utama Bank BJB
Jika berjalan sesuai rencana, Dry Port KITB tidak hanya akan menjadi penggerak logistik nasional, tetapi juga katalis bagi lahirnya pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis industri dan kreativitas di Jawa Tengah, sebuah langkah penting menuju sistem logistik Indonesia yang lebih efisien, kompetitif, dan berkelanjutan.












