Syaifullah menjelaskan bahwa penelitiannya menyebabkan perlunya inovasi dalam proses “hilirisasi” nilam, yaitu menghasilkan parfum dengan menggunakan minyak nilam.
“Saat ini omset UMKM nilam di bawah bimbingan Atsiri Research Center (ARC) di Aceh bisa mencapai Rp150-200 juta per bulan,” ucapnya.
Saat ini, terdapat 35 UMKM yang dibentuk oleh ARC.
Jejak Sejarah: Asal Usul Nilam
Seringkali terdengar pertanyaan, dari mana asal kata “nilam”? Kata ini berasal dari singkatan berbahasa Belanda, yaitu “Nederlands Indische Landbouw Atjeh Maatschappij,” yang merujuk kepada sebuah perusahaan milik Hindia Belanda.
Baca juga: Heboh! IEMS 2023 Kembali Hadir Sebagai Pelopor Akselerasi Kendaraan Listrik di Indonesia
InaRI Expo: Jembatan Antara Riset, Inovasi, dan Industri
Terakhir, terkait dengan InaRI Expo yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syaifullah menganggapnya sebagai pameran yang mampu menyatukan hasil riset dan inovasi dengan industri.
“InaRI expo dari riset dan inovasi terbesar di Indonesia. Kita berharap antara riset dan inovasi itu berdampak pada dunia industri dan berdampak pada ekonomi nasional,” pungkasnya.
Demikianlah cerita menarik tentang minyak nilam Aceh yang mengharumkan parfum Prancis dan memberikan kontribusi positif bagi ekonomi lokal. Semoga cerita ini menginspirasi petani lainnya untuk mengembangkan potensi alamnya dalam skala internasional.






