Namun, konflik Suriah tidak hanya melibatkan isu lokal. Suriah pernah kehilangan Dataran Tinggi Golan kepada Israel dalam Perang Yom Kippur 1973. Ketegangan dengan Israel terus menjadi elemen penting dalam dinamika konflik di wilayah ini.
3. Revolusi Arab dan Dampaknya pada Suriah
Ketika gelombang revolusi Arab dimulai pada 2010, Suriah menjadi salah satu target utama. Amerika Serikat dan sekutunya menyebut gerakan tersebut sebagai upaya demokratisasi. Namun, Faisal Assegaf mempertanyakan klaim ini, mengingat negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar—yang berbentuk kerajaan—tidak tersentuh revolusi.
Sejak pecahnya konflik di Suriah pada 2011, kelompok pemberontak seperti ISIS dan Al-Qaeda mendapat dukungan dari negara-negara Barat dan Arab Teluk. Namun, hubungan ini berubah setelah ISIS menjadi ancaman global dengan deklarasi khilafahnya pada 2014.
4. Kepentingan Amerika dan Peran Turki di Suriah
Amerika Serikat, di satu sisi, mendukung pasukan Syrian Defense Forces (SDF) yang didominasi etnis Kurdi untuk memberantas ISIS.
Namun, di sisi lain, Turki mengambil langkah berbeda dengan membuka perbatasannya untuk kelompok pemberontak seperti ISIS dan Al-Qaeda. Langkah ini dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional, terutama ketika Turki menginvasi wilayah utara Suriah dan Irak pada 2019.
Turki memiliki kepentingan strategis dalam memberantas pemberontak Kurdi yang dianggap mengancam stabilitas dalam negeri. Hubungan kompleks antara Turki, ISIS, dan Al-Qaeda menciptakan dinamika yang rumit dalam konflik ini.
5. Dukungan Iran dan Rusia terhadap Rezim Assad
Iran, sebagai sekutu utama Assad, mengirim penasihat militer dan pasukan elit seperti Brigade Fatimiyun untuk membantu menumpas pemberontak. Peran ini diperkuat oleh Hizbullah yang juga mengirim pasukan ke Suriah.
Sementara itu, Rusia, di bawah Vladimir Putin, mengambil posisi tegas mendukung Assad. Dengan latar belakang sebagai perwira KGB era Perang Dingin, Putin memandang Amerika Serikat sebagai rival utama dan sering kali bertentangan dalam kebijakan Timur Tengah.
BACA JUGA:Â Dianggap Bela Palestina, Retno Marsudi Dicibir Abu Janda Tak Jadi Menlu di Kabinet Prabowo
Dengan demikian, Konflik Suriah mencerminkan kompleksitas geopolitik di kawasan Timur Tengah, di mana berbagai kekuatan global dan regional memiliki kepentingan masing-masing. Serangan pemberontak ke Aleppo menjadi simbol bahwa ketegangan di Suriah belum mereda dan terus berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.
Terakhir, Faisal Assegaf menutup penjelasannya dengan mengingatkan bahwa Suriah tetap menjadi medan pertempuran ideologi dan geopolitik yang melibatkan berbagai kekuatan global.






